JATIMPOS.CO/SURABAYA — Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi Partai Golkar, Sumardi, meminta evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul dugaan keracunan massal di Kabupaten Mojokerto.

Sumardi menilai besarnya jumlah korban menjadi peringatan serius bagi tata kelola program. Selain dampak kesehatan, ia mengingatkan adanya potensi trauma psikologis pada siswa serta kekhawatiran di kalangan orang tua.

“Korban cukup banyak. Ini harus dievaluasi total, karena dampaknya bukan hanya kesehatan, tapi juga psikologis siswa dan orang tua,” ujar Sumardi saat dikonfirmasi di Surabaya, Senin (12/1/2026).

Ia menegaskan evaluasi tidak boleh parsial dan harus mencakup seluruh rantai proses, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan makanan, hingga distribusi ke penerima manfaat.

Menurutnya, ketidakpatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) berisiko menimbulkan dampak fatal.

“Kalau SOP tidak dijalankan dengan disiplin, risikonya besar. Ini harus ditelusuri dari hulu ke hilir,” katanya.

Sumardi juga menyoroti potensi risiko pada menu basah jika terdapat jeda waktu terlalu panjang antara proses memasak dan konsumsi. Kondisi tersebut, menurutnya, berpeluang memicu pertumbuhan bakteri yang membahayakan kesehatan.

“Jarak waktu masak dan konsumsi yang terlalu lama harus benar-benar dikontrol,” tegasnya.

Ia mendorong agar SOP MBG ditinjau kembali dan dipastikan benar-benar dijalankan di lapangan.

Menurut Sumardi, SOP disusun melalui kajian dan tidak boleh diabaikan hanya karena tekanan jumlah produksi yang besar.

“Program ini sebenarnya baik. Jangan sampai karena kelalaian teknis, kepercayaan masyarakat justru menurun,” pungkasnya.

Sebagai informasi, dugaan keracunan massal MBG di Kabupaten Mojokerto melibatkan 261 penerima manfaat, mayoritas pelajar dan santri.

Peristiwa itu terjadi usai konsumsi menu soto ayam yang didistribusikan dari SPPG di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi pada Jumat (9/1/2026). Sejumlah korban mengalami gejala mual, muntah, demam, hingga diare, dan sebagian menjalani perawatan medis di posko kesehatan serta rumah sakit rujukan. (zen)