JATIMPOS.CO/BONDOWOSO. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan tikus, termasuk hantavirus yang belakangan ramai diperbincangkan. Meski belum ditemukan kasus di Bondowoso, masyarakat diminta memahami cara penularan dan langkah pencegahannya.

Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso, dr. M. Jasin, menjelaskan bahwa hantavirus dan leptospirosis memiliki sumber penularan yang sama, yakni tikus. Penularan dapat berasal dari air kencing, kotoran, maupun air liur tikus yang terinfeksi.

" Memang betul leptospirosis dan infeksi hantavirus ini sumber utamanya dari tikus, baik dari kencing, kotoran maupun air liurnya. Tetapi syaratnya tikus tersebut memang membawa bakteri atau virus penyebab penyakit," kata Jasin, Kamis, (18/06/2026). 

Menurutnya, perbedaan utama kedua penyakit itu terletak pada agen penyebabnya. Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira, sedangkan hantavirus disebabkan oleh virus hantavirus.

" Kalau leptospirosis mengandung bakteri Leptospira. Kalau hantavirus mengandung virus hantavirus. Yang berbahaya adalah ketika tikus tersebut membawa bakteri atau virus tersebut," ujarnya.

Jasin menjelaskan, hantavirus bukan penyakit baru. Berdasarkan berbagai referensi, penyakit tersebut sudah dikenal sejak tahun 1950-an dan pernah ditemukan di Indonesia pada era 1980-an.

Ia menyinggung kasus yang sempat ramai terjadi di sebuah kapal beberapa waktu lalu. Saat itu, seluruh penumpang harus menjalani karantina karena dikhawatirkan terjadi penyebaran infeksi yang relatif cepat.

" Karena penularannya cukup cepat, seluruh penumpang yang ada di kapal tersebut harus dikarantina sampai dipastikan tidak ada lagi yang terinfeksi," jelasnya.

Untuk mencegah penularan, Jasin mengimbau masyarakat Bondowoso, khususnya petani, agar menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas di sawah. Terlebih saat musim panen ketika tikus dari area persawahan sering berpindah ke permukiman warga.

" Pencegahan terbaik saat ke sawah adalah memakai sepatu boot. Untuk leptospirosis, penularan bisa terjadi melalui luka di tubuh yang terkena air kencing atau kotoran tikus," katanya.

Ia menerangkan, bakteri leptospira dapat masuk melalui luka terbuka maupun selaput lendir seperti rongga hidung dan mulut. Sementara hantavirus lebih banyak menular melalui udara yang telah terkontaminasi partikel dari kotoran atau air liur tikus yang terinfeksi.

" Kalau hantavirus, penularannya lebih banyak melalui udara. Ketika udara yang sudah terkontaminasi terhirup manusia, maka virus dapat masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit," ujarnya.

Gejala awal kedua penyakit tersebut hampir serupa, yaitu demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri otot. Namun pada hantavirus sering disertai gangguan pernapasan seperti sesak napas karena virus masuk melalui saluran pernapasan dan dapat menyerang paru-paru.

Selain itu, hantavirus maupun leptospirosis juga berpotensi menyerang ginjal. Karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala-gejala tersebut, terutama setelah kontak dengan lingkungan yang berisiko terpapar tikus.

Terkait kondisi di Bondowoso, Jasin mengungkapkan hingga saat ini belum ditemukan kasus hantavirus. Namun, untuk leptospirosis tercatat terdapat tujuh kasus positif sepanjang tahun ini dan seluruh pasien berhasil ditangani tanpa komplikasi berat maupun kematian.

" Alhamdulillah untuk hantavirus di Bondowoso belum ada kasus. Sedangkan leptospirosis tahun ini ada tujuh kasus positif dan semuanya tertangani dengan baik. Karena itu, jika ada gejala yang mengarah ke penyakit tersebut, segera periksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit agar bisa dideteksi dan ditangani lebih dini," pungkasnya.(Eko)