JATIMPOS.CO/SURABAYA - Kota Surabaya kembali mengukuhkan posisinya sebagai pionir kesetaraan gender di Indonesia. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya secara resmi dianugerahi penghargaan bergengsi dalam ajang Ikatan Pimpinan Tinggi Perempuan Indonesia (PIMTI) Awards 2025.
Apresiasi ini diserahkan langsung oleh Deputi Bidang Koordinasi Kemenko PMK, Woro Sri Hastuti Sulistyaningrum, kepada Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Lilik Arijanto, di Ruang Sidang Wali Kota pada Jumat (6/2/2026).
Keberhasilan ini bukanlah tanpa alasan. Berdasarkan keputusan presidium PIMTI, Surabaya dinilai sangat konsisten dalam menerapkan kebijakan pengarusutamaan gender. Hal ini tercermin dari data tahun 2025 yang menunjukkan bahwa keterlibatan Aparatur Sipil Negara (ASN) perempuan dalam Jabatan Pimpinan Tinggi mencapai angka fantastis, yakni 62,90 persen. Angka ini jauh melampaui standar minimal 30 persen yang biasanya menjadi target keterlibatan perempuan dalam ranah kebijakan publik.
Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Lilik Arijanto, menegaskan bahwa pencapaian ini didorong oleh kualitas kinerja para pemimpin perempuan di tingkat Eselon II yang dinilai unggul. Namun, Pemkot Surabaya menyadari bahwa kesetaraan tidak hanya soal posisi di atas kertas, melainkan juga dukungan fasilitas yang manusiawi.
Oleh karena itu, di setiap instansi pemerintahan kini telah tersedia Ruang Laktasi, fasilitas daycare, hingga PAUD gratis. "Fasilitas ini menjadi kunci agar para ASN perempuan tetap bisa berkarya tanpa harus mengorbankan peran penting mereka dalam keluarga", ujar Lilik.
Selain fasilitas fisik, Surabaya juga menyediakan jaring pengaman sosial melalui layanan Pos Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA). Layanan ini hadir sebagai ruang konsultasi dan pendampingan bagi perempuan dan anak-anak yang memerlukan bantuan khusus. Lilik menambahkan bahwa saat ini proporsi ASN perempuan secara keseluruhan di Surabaya menyentuh angka 43 persen, sebuah komposisi ideal yang akan terus dipertahankan demi menjaga iklim kerja yang inklusif.
Deputi Kemenko PMK, Woro Sri Hastuti Sulistyaningrum, memberikan pujian khusus atas keberanian Surabaya memberikan ruang kebijakan bagi perempuan. Menurutnya, skor tertinggi yang diraih Surabaya merupakan hasil dari pengolahan data yang ketat, mulai dari persentase jabatan hingga kesempatan mengikuti pelatihan kepemimpinan (Diklat PIM).
"Keterlibatan perempuan di kursi kepemimpinan dianggap krusial karena mereka membawa perspektif yang berbeda dalam pengambilan keputusan publik", kata Hastuti.
Ke depannya, tantangan bagi Surabaya adalah menjaga konsistensi prestasi ini. Woro berpesan agar Pemkot terus mengedukasi seluruh elemen ASN, termasuk kaum laki-laki, mengenai pentingnya kepemimpinan perempuan. Dengan struktur demografi Indonesia yang seimbang antara laki-laki dan perempuan, optimalisasi potensi kedua gender menjadi kunci utama dalam memajukan pembangunan kota yang berkelanjutan dan ramah bagi semua kalangan.(fred)