JATIMPOS.CO/PASURUAN – Audiensi antara manajemen RSUD dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan, keluarga pasien yang meninggal dunia, dan Forum Rembuk Masyarakat (FORMAT) Pasuruan berakhir dengan kesepahaman. Pertemuan yang digelar Rabu (10/6/2026) itu menjadi tindak lanjut atas permohonan audiensi untuk mengklarifikasi polemik yang berkembang di tengah masyarakat.

Audiensi dipimpin langsung Direktur RSUD dr. R. Soedarsono, dr. Adi Widianto, dan dihadiri jajaran manajemen rumah sakit serta pihak keluarga pasien.

Dalam pemaparannya, manajemen rumah sakit menjelaskan kronologi pelayanan berdasarkan dokumen rekam medis resmi. Berdasarkan data yang dimiliki rumah sakit, tidak ditemukan diagnosis penyakit jantung sebagaimana informasi yang sebelumnya beredar.

"Di rekam medis pasien tidak ditemukan diagnosis penyakit jantung. Kami menyampaikan seluruh keterangan berdasarkan data pelayanan yang terdokumentasi secara resmi dan akan menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi," ujar dr. Adi Widianto.

Keterangan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari pihak keluarga. Mereka mengaku informasi mengenai dugaan penyakit jantung diperoleh saat berkomunikasi dengan tenaga kesehatan yang menangani pasien selama menjalani perawatan.

Perbedaan informasi itu menjadi salah satu fokus pembahasan dalam audiensi. Keluarga menilai penyampaian keterangan yang tidak sinkron telah menimbulkan kebingungan dan kekecewaan.

Selain membahas aspek pelayanan, forum juga menyoroti mekanisme pengawasan terhadap tenaga kesehatan, khususnya dalam penyampaian informasi medis kepada pasien dan keluarga. FORMAT menilai rumah sakit perlu memperkuat kontrol internal agar komunikasi yang disampaikan kepada masyarakat tetap sesuai dengan data medis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Meski berlangsung dalam suasana yang cukup dinamis, pertemuan akhirnya menghasilkan kesepahaman. Pihak rumah sakit menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi, sementara keluarga pasien menerima penjelasan yang disampaikan selama audiensi.

Manajemen RSUD juga menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap sistem pelayanan dan pola komunikasi petugas guna mencegah terulangnya persoalan serupa di masa mendatang.

Ketua FORMAT Pasuruan, Ismail Makky, menilai peristiwa tersebut harus menjadi momentum pembenahan internal rumah sakit, terutama terkait profesionalitas dan pengawasan tenaga kesehatan.

"Kami tidak mungkin mengembalikan nyawa yang telah hilang. Namun pengawasan, profesionalitas, dan moralitas tenaga medis harus diperkuat agar pelayanan kesehatan benar-benar berorientasi pada keselamatan pasien serta tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari," kata Makky.

Audiensi ditutup dalam suasana kondusif setelah seluruh pihak sepakat menyelesaikan persoalan melalui dialog dan saling memaafkan. (shl)