JATIMPOS.CO/KEDIRI - Guru Bimbingan Konseling (BK) SMPN 2 Mojo Kabupaten Kediri mengikuti ATS (Anak Tidak Sekolah) Award 2026 yang diselenggarkan Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, pada Jumat (6/2/2026) lalu.

Lilik Fauziah salah satu guru BK di SMPN 2 Mojo menyampaikan, di Kabupaten Kediri masih cukup tinggi data anak yang tidak sekolah dan tidak melanjutkan sekolah.

Ia berusaha menggali informasi dari masyarakat maupun dari siswa apakah ada di sekitar mereka teman yang tidak bersekolah, dan akhirnya didapati empat data anak yang tidak bersekolah, keempat anak itu RH, LK, JH, dan 1 ATS. 

"Pertama, saya membuat janji dengan mereka untuk berkumpul di rumah salah satu keluarga yang anaknya tidak bersekolah. Disitu kami menemukan beberapa alasan kenapa mereka tidak bersekolah. Kami memberikan penjelasan kepada meraka tentang pentingnya pendidikan di masa depan dan beberapa pilihan sekolah yang bisa mereka masuki," ujar Lilik.

Lilik menerangkan kondisi keempat anak tersebut, RH, merupakan anak yang lulus SD namun tidak melanjutkan ke SMP, sempat tidak melanjutkan sekolah namun setelah diberi penjelasan akhirnya mau melanjutkan sekolah lagi, dan orangtuanya sangat mendukung.

Selanjutnya LK dan JH, mereka anak LTM (Lulus Tidak Melanjutkan) Lulus SD tahun 2024 dan tahun 2025. Ia juga menanyakan dan memastikan apakah mereka benar-benar berkeinginan melanjutkan sekolah dengan bukti menyerahkan kelengkapan persyaratan tanda daftar sekolah lagi.

"Terakhir mengunjungi ke ATS (Anak tidak sekolah), ini sangat spesial buat saya karena anak ini belum pernah sekolah sama sekali. Faktor ekonomi dan kondisi keluarga (ayah) yang memiliki gangguan pendengaran. Keseharian anak ini masak untuk dirinya sendiri dan ayahnya," terangnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 2 Mojo Heri Susanto mengatakan, hasil dari Home Visit yang dilakukan, ada yang memilih masuk ke SMPN 2 Mojo Kelas Jauh dan ke PKBM Adiluhung.

"Sebagai seorang pendidik Home Visit terhadap 4 ATS menjadi langkah awal yang sangat berarti dalam upaya memastikan setiap anak memperoleh hak pendidikan yang layak," kata Heri, Selasa (10/2/2026).

Dilanjutkan Heri, tidak hanya memperoleh data dan informasi yang lebih utuh, tetapi bisa membangun komunikasi, empati, dan kepercayaan dengan ATS beserta keluarganya. Melalui ATS Award salah satu langkah Dinas pendidikan Kabupaten Kediri mengurangi angka putus sekolah.

Hasil mengikuti ATS Award menunjukkan bahwa setiap anak memiliki latar belakang, tantangan, dan potensi yang berbeda. Oleh karena itu diperlukan sinergi dan kepedulian bersama antara pemerintah daerah, sekolah, orang tua, dan juga masyarakat.

"Semoga langkah kecil ini menjadi ikhtiar besar dalam mewujudkan pendidikan di Kabupaten Kediri yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada masa depan anak," tutup Heri. (priez)