JATIMPOS.CO/TUBAN – Dampak perubahan iklim semakin nyata dirasakan. Peningkatan suhu global, cuaca ekstrem, kenaikan permukaan air laut, hingga krisis air menjadi sejumlah ancaman lingkungan yang membutuhkan perhatian serius. Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) mencatat 2024 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah pengamatan. Suhu rata-rata global pada tahun tersebut mencapai sekitar 1,55 derajat Celsius di atas tingkat suhu pada masa praindustri.
Salah satu faktor utama perubahan iklim adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia, seperti penggunaan bahan bakar fosil, kegiatan industri, dan deforestasi. Kondisi tersebut menjadi perhatian PT Pertamina Patra Niaga (PT PPN) Fungsi Early Work (EW) Grass Root Refinery (GRR) Tuban bersama tim PRPP. Melalui program edukasi lingkungan bertajuk Persada, perusahaan mengajak pelajar mengenal perubahan iklim sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di MI Manbail Huda, Desa Kaliuntu, Kabupaten Tuban, Kamis (5/11/2026). Sebelumnya, program serupa digelar di SDN Sumurgeneng 01 sehari lebih awal.
Dalam kegiatan tersebut, tim Stasiun Meteorologi Tuban Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan pemahaman kepada para siswa mengenai perubahan iklim, faktor penyebab, serta dampaknya terhadap kehidupan.
Pengawas Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban, Hanim Mughfirah, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, edukasi lingkungan sejalan dengan fokus pendidikan madrasah, khususnya pengembangan dan perlindungan ekologi melalui pengelolaan sampah, penghijauan, serta pengelolaan limbah.
“Kegiatan hari ini sangat selaras dengan kurikulum pendidikan madrasah, yaitu untuk mewujudkan nilai-nilai Panca Cinta yang salah satunya adalah cinta lingkungan. Selain itu, kegiatan ini juga erat dengan aspek cinta ilmu. Dengan adanya kegiatan ini, wawasan kita semua akan bertambah,” ujar Hanim.
Sementara itu, Pjs Senior Project Manager EW GRR Tuban, Febrian Dwi Prastyo, menegaskan komitmen seluruh elemen Proyek GRR Tuban untuk turut berkontribusi dalam pelestarian lingkungan. Pihaknya juga mendorong keterlibatan semua kalangan, termasuk anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
“Pendidikan merupakan investasi terbaik yang diperlukan untuk menjaga lingkungan dan hal tersebut perlu ditanamkan sejak usia dini. Oleh karena itu, kami melalui program ini mengajak generasi muda di sekitar area proyek untuk turut melakukan upaya nyata dalam rangka mendukung antisipasi perubahan iklim,” kata Febrian.
Program Persada tidak hanya menghadirkan edukasi di dalam kelas. Para siswa juga diajak melakukan praktik langsung, salah satunya membuat pupuk kompos dari limbah organik.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi timbulan sampah melalui penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Dengan demikian, limbah organik dapat diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Sebagai bentuk dukungan, perusahaan turut memberikan peralatan pembuat kompos serta 42 bibit tanaman yang terdiri atas tanaman buah dan tanaman peneduh untuk ditanam di kedua sekolah.
Secara keseluruhan, sebanyak 142 siswa dari kedua sekolah mengikuti program edukasi tersebut. Kepala SDN Sumurgeneng 01, Umar Faroch, turut mengapresiasi metode pembelajaran Persada yang menggabungkan penyampaian materi dengan praktik langsung di lapangan.
Program Persada 2026 merupakan pelaksanaan tahun ketiga. Pada dua tahun sebelumnya, kegiatan serupa telah menjangkau 12 sekolah dengan melibatkan 1.114 siswa.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari strategi keberlanjutan PT PPN dalam mendukung pelestarian lingkungan dan mitigasi perubahan iklim. Upaya tersebut juga sejalan dengan komitmen Proyek EW GRR Tuban dan PRPP terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya Tujuan 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim dan Tujuan 15 tentang Perlindungan Ekosistem Daratan. (min)