JATIMPOS.CO/SURABAYA – Ketua Dewan Pakar Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menginginkan Dewan Pakar IKA Unair periode 2025-2030 tidak sekadar menjadi organisasi formal di atas kertas.
AHY menyiapkan sedikitnya tiga output konkret, mulai dari penyusunan rekomendasi kebijakan, penyelenggaraan Airlangga Strategic Forum, hingga forum dialog rutin antaranggota dewan pakar.
Ketiga program tersebut dipaparkan AHY saat memimpin Rapat Dewan Pakar IKA Unair di Kantor Manajemen Unair Surabaya, Selasa (23/6/2026) malam.
"Kalau bisa menjadi output, bisa menjadi sesuatu yang kita hadirkan nilai tambah bagi IKA Unair dan juga Unair secara keseluruhan. Mudah-mudahan dewan pakar tidak hanya menjadi nama saja di atas kertas, tapi benar-benar punya arti dan dampak yang nyata," kata AHY.
Menurut Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan itu, Dewan Pakar IKA Unair harus mampu berkontribusi terhadap kemajuan kampus sekaligus memberikan sumbangsih bagi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Salah satu output yang diusulkan ialah penyusunan policy recommendation atau rekomendasi kebijakan berdasarkan berbagai isu strategis nasional.
Selain itu, AHY juga menggagas penyelenggaraan Airlangga Strategic Forum sebagai forum tahunan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, baik dari kalangan kampus, think tank, pemerintah, hingga mitra internasional.
"Kami bisa berinisiatif untuk menyelenggarakan semacam Airlangga Strategic Forum. Ini acara tahunan, mungkin kita bisa bekerja sama dengan sejumlah stakeholders lainnya, dengan kalangan kampus yang lain atau dengan think tanks dalam dan luar negeri," ujarnya.
Tak hanya forum berskala besar, AHY juga mengusulkan adanya Dewan Pakar Dialogue sebagai ruang diskusi internal antaranggota dewan pakar untuk membahas berbagai isu strategis.
"Dari kita untuk kita, tapi ada sesuatu yang bisa kita kontribusikan juga," imbuhnya.
Dalam paparannya, AHY juga menawarkan sejumlah peran strategis Dewan Pakar IKA Unair dalam mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Di bidang pendidikan, misalnya, dewan pakar diharapkan dapat membantu memetakan kompetensi masa depan agar kurikulum kampus tetap relevan dengan kebutuhan industri, birokrasi, maupun pasar kerja global.
Selain itu, dewan pakar juga diharapkan mampu menjembatani mahasiswa dengan jaringan alumni yang saat ini berkiprah di pemerintahan, dunia usaha, maupun sektor profesional lainnya.
Sementara di bidang penelitian, AHY menegaskan hasil riset kampus tidak boleh berhenti sebatas publikasi ilmiah.
"Riset tidak hanya berhenti menjadi publikasi, tapi juga menjadi rekomendasi kebijakan dan solusi yang bisa diimplementasikan," tegas AHY. (zen)