JATIMPOS.CO/SIDOARJO – Ratusan pelajar yang terdiri siswa SD dan SMP di Kabupaten Sidoarjo mengikuti kegiatan : Belajar Bersama di Museum Mpu Tantular (BBM), dengan tema : “Melestarikan Wayang Kulit sebagai Warisan Budaya Bangsa” di Museum Mpu Tantular Buduran Sidoarjo, Kamis (23/7/2026).
Dengan dipandu narasumber yakni praktisi wayang Tutuko Aji dan Ken Hatta Nara Galih, para siswa mencoba membuat wayang dari tahapan dasar membuat sketsa hingga mengenal Teknik pewarnaan dan penyambungan bagian wayang.
Sebelum praktek membuat wayang, para siswa diberikan pembekalan tentang makna wayang dan perkembangannya. Kegiatan ini merupakan program UPT Museum Mpu Tantular untuk melestarikan budaya leluhur bangsa.

Pejabat Disbudpar Jatim UPT Museum Mpu Tantular, narasumber dan peserta Belajar Bersama di Museum Mpu Tantular “Melestarikan Wayang Kulit sebagai Warisan Budaya Bangsa” di Museum Mpu Tantular, (23/7/2026)
------------------------------------
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Jatim Evy Afianasari dalam pesan yang disampaikan Kepala UPT Museum Mpu Tantular Rica Fuspita.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya bersama dalam meningkatkan akses pembelajaran budaya, khususnya kepada generasi muda. Melalui kegiatan ini diharapkan museum tidak hanya menjadi tempat menyimpan dan memamerkan benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang belajar yang interaktif dan inspiratif,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan belajar bersama di museum yang kita selenggarakan pada pagi hari ini mengusung tema "Melestarikan Wayang sebagai Warisan Budaya Bangsa". Mengangkat kerajinan wayang sebagai salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sejak tahun 2003.
“Dimana wayang ini memiliki filosofi yang sangat tinggi serta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa Timur secara khusus dan Indonesia secara umum. Tema yang kami angkat juga selaras dengan koleksi yang dimiliki oleh museum, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran yang kontekstual,” tambahnya.
Dikatakan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur melalui UPT Museum Negeri Empu Tantular Provinsi Jawa Timur berupaya mengoptimalkan peran museum sebagai sarana edukasi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan, serta memperluas akses pembelajaran budaya kepada masyarakat, salah satunya melalui kegiatan kita pada pagi hari ini.
“Melalui kegiatan pada hari ini, diharapkan anak-anak kita, generasi muda, dapat mengenal lebih dekat warisan budaya daerah, sehingga akan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya serta memperkuat rasa cinta dan bangga terhadap identitas bangsa,” paparnya.
Dalam sesi pertama, praktisi wayang Tutuko Aji mengajak peserta mengenal sejarah, jenis, hingga filosofi wayang kulit. Ia menjelaskan bahwa wayang merupakan seni pertunjukan tradisional Indonesia yang memadukan berbagai unsur seni sekaligus mengandung nilai kehidupan.
"Wayang bukan hanya seni pertunjukan tradisional, tetapi juga menggabungkan unsur teater, sastra, musik, tari, seni rupa, dan filosofi kehidupan," jelas Tutuko Aji saat memaparkan materi.
Ia juga menyampaikan bahwa wayang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2003. Selain itu, peserta dikenalkan berbagai jenis wayang, sejarah perkembangannya, hingga fungsi wayang sebagai media hiburan, pendidikan, pengajaran moral, kritik sosial, serta simbolisasi filosofis antara kebaikan dan kejahatan.
Sementara itu, praktisi Ken Hatta Nara Galih menjelaskan proses pembuatan wayang kulit yang terdiri atas enam tahapan, mulai dari membuat sketsa, memotong kulit, pengeringan, memahat, mewarnai, hingga penyambungan bagian-bagian wayang.
"Durasi proses tatah tergantung besar kecilnya wayang serta kerumitan tatahan. Mulai dari lima hari sampai dua minggu," terang Ken Hatta Nara Galih saat menjelaskan tahapan pembuatan wayang kulit. (zen)