JATIMPOS.CO//SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mencoba mengubah cara generasi muda menikmati permainan digital. Di tengah kekhawatiran meningkatnya kebiasaan anak menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Surabaya justru memanfaatkan teknologi sebagai pintu masuk untuk mengajak mereka kembali beraktivitas di ruang terbuka.

Strategi itu diwujudkan melalui peluncuran mangrovethrone.com, sebuah game berbasis web yang hanya dapat dimaksimalkan saat pemain berada di kawasan Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya. Game tersebut dijadwalkan diluncurkan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi pada Sabtu (25/7/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-3 KRM.

Kepala Brida Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, mengungkapkan bahwa inovasi tersebut lahir dari hasil pengamatan terhadap pola aktivitas anak-anak usia sekolah yang semakin bergantung pada gawai.

"Anak-anak kita suka main game, tapi biasanya duduk di kamar berjam-jam. Itu kan tidak sehat. Dengan permainan ini, anak-anak didorong harus bermain di luar rumah, dalam hal ini KRM yang udaranya segar dan bagus, sehingga anak-anak jadi lebih sehat," ujarnya, Selasa (21/7/2026).

Game ini mengusung cerita tiga kerajaan hewan, yakni Rajoboyo sebagai penguasa sungai, Ratu Sura dari kerajaan laut, dan Pangeran Kera yang mewakili kawasan mangrove. Ketiganya dipaksa berkolaborasi menghadapi monster yang merupakan simbol persoalan lingkungan, mulai sampah plastik, limbah medis hingga polusi udara.

Tak hanya menghibur, permainan tersebut juga menyisipkan unsur edukasi. Pemain wajib merawat karakter hewan agar tetap sehat dan bahagia, sekaligus meningkatkan kemampuan melalui kuis yang nantinya akan disusun bersama Dinas Pendidikan Kota Surabaya.

"Pemain juga bisa meningkatkan poin kepintaran hewannya dengan menjawab kuis atau soal-soal sederhana yang ada di game. Untuk materi kuis ini kami akan berkolaborasi dengan Dispendik agar materi pelajaran sekolah bisa diserap dengan menyenangkan," kata Agus.

Di balik konsep tersebut, Brida sengaja memilih format web apps dibanding aplikasi Android maupun iOS. Pengembang Mangrove Throne, David Hermansyah, menjelaskan keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi agar game benar-benar inklusif.

"Kalau dibuat aplikasi Android atau iOS, gadget yang spesifikasinya rendah akan kesulitan. Kami memilih web apps, sehingga cukup membuka website, pemain bisa langsung bermain," jelas David.

Ia menambahkan, mekanisme permainan mengadopsi konsep populer seperti Pokemon Go dan Tamagotchi. Pemain harus berburu karakter hewan di sejumlah titik kawasan mangrove, merawatnya secara berkala, melakukan pertukaran kartu digital, hingga bertarung dengan pemain lain dalam radius sekitar 100 meter.

Menariknya, sejumlah karakter hanya muncul pada musim tertentu, termasuk burung migrasi asal Australia yang hadir setiap enam bulan sekali. Skema ini diharapkan membuat pemain terus kembali mengunjungi Kebun Raya Mangrove.

Tak berhenti sebagai permainan digital, Brida juga membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif. Karakter-karakter dalam game diproyeksikan menjadi merchandise yang dapat diproduksi bersama pelaku UMKM, mulai kaos, topi hingga kartu koleksi.

David menilai model permainan berbasis lokasi tersebut juga berpotensi diterapkan di destinasi wisata edukasi lain milik Pemkot Surabaya.

"Fitur ini tidak hanya terbatas di Mangrove. Ke depannya bisa juga diterapkan di Kebun Binatang Surabaya atau kawasan Kota Tua untuk menarik keramaian sekaligus menjadi media edukasi," tuturnya. (fred)