JATIMPOS.CO/BONDOWOSO. Momentum Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga persatuan, memperkuat semangat gotong royong, dan menghadirkan keadilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dinilai tetap relevan sebagai pedoman menghadapi berbagai tantangan zaman.
Wakil Ketua Komite Tetap Pembiayaan Fiskal Perumahan Kadin RI, Ali Hasan Mun'im, menilai Hari Lahir Pancasila bukan sekadar peringatan historis, melainkan momentum refleksi untuk memperkuat komitmen kebangsaan di tengah dinamika sosial dan ekonomi yang terus berkembang.
Menurutnya, Pancasila telah menjadi fondasi utama yang mempersatukan keberagaman Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga saat ini. Karena itu, seluruh lapisan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Ali Hasan mengatakan bahwa semangat Pancasila harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya sebatas slogan atau seremoni tahunan.
Ia menilai implementasi nilai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial harus terlihat dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pembangunan ekonomi dan pelayanan kepada masyarakat.
" Hari Lahir Pancasila mengingatkan kita bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi persatuan dalam keberagaman. Pancasila bukan hanya warisan para pendiri bangsa, tetapi juga panduan yang harus terus kita hidupkan dalam setiap aktivitas dan pengabdian kepada masyarakat," kata Ali Hasan yang juga sebagai Owner SPPG Sukowiryo, Bondowoso, Minggu (31/05/2026).
Ia menjelaskan bahwa tantangan bangsa saat ini tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat. Dalam konteks tersebut, nilai keadilan sosial sebagaimana tercantum dalam sila kelima Pancasila menjadi sangat penting.
Menurut Ali Hasan, dunia usaha memiliki peran strategis dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila melalui penciptaan lapangan kerja, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan ekonomi yang inklusif. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan rakyat.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun budaya gotong royong di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi yang semakin cepat. Semangat kebersamaan, kata dia, harus tetap menjadi identitas bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai perubahan.
" Pancasila mengajarkan kita untuk tidak berjalan sendiri-sendiri. Nilai gotong royong harus menjadi kekuatan bangsa dalam menghadapi tantangan global. Ketika pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat bergerak bersama, maka berbagai persoalan dapat diselesaikan dengan lebih baik," ujarnya.
Ali Hasan menambahkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai Pancasila. Ia berharap kaum muda tidak hanya memahami Pancasila secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan pendidikan, dunia kerja, maupun ruang digital.
" kemajuan teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana memperkuat persatuan bangsa, bukan sebaliknya menjadi alat yang memicu perpecahan akibat penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab, " Jelasnya.
Ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan Hari Lahir Pancasila sebagai momentum memperkuat rasa cinta tanah air dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Dengan menjaga persatuan dan semangat kebersamaan, Indonesia diyakini mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Bagi Ali Hasan, makna terbesar Hari Lahir Pancasila adalah bagaimana seluruh anak bangsa terus menjaga nilai persatuan, kemanusiaan, dan keadilan dalam setiap langkah pembangunan.
" Dengan berpegang teguh pada Pancasila, Indonesia akan tetap kokoh sebagai bangsa yang besar, berdaulat, dan bermartabat, " Pungkasnya. (Eko)