JATIMPOS.CO, KABUPATEN JEMBER - Peran OJK (Otoritas Jasa Keuangan) tak sekadar mengatur dan mengawasi, tetapi juga memastikan industri jasa keuangan tumbuh secara sehat, terarah, dan berkelanjutan. Dengan mengedepankan perlindungan konsumen serta pengawasan yang presisi, OJK berkomitmen mendorong seluruh Lembaga Jasa Keuangan (LJK) untuk mengoptimalkan fungsi intermediasi demi memperkuat akselerasi ekonomi masyarakat di daerah.
Kantor Otoritas Jasa Keuangan Jember menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) di wilayah Sekarkijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang) tetap terjaga, didukung oleh pertumbuhan ekonomi regional yang solid di atas rata-rata nasional, serta kinerja intermediasi keuangan yang tumbuh positif per posisi 31 Mei 2026.
"Awal Triwulan I 2026, perekonomian wilayah Sekarkijang menunjukkan angka yang mengesankan dengan seluruh Kabupaten mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Jember dan Banyuwangi menjadi daerah dengan pertumbuhan tertinggi, masing-masing sebesar 6,35 persen dan 6,14 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sebesar 5,96 persen dan nasional sebesar 5,61 persen.
Sementara itu, Lumajang tumbuh 5,89 persen, Situbondo 5,50 persen, dan Bondowoso 5,42 persen. Secara keseluruhan, capaian tersebut mencerminkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah Sekarkijang tetap terjaga, didukung oleh kinerja sektor-sektor utama seperti pertanian, perdagangan dan industri pengolahan, sehingga menjadi modal positif bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dan penguatan sektor jasa keuangan di daerah," ungkap Arief Budiman Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan Jember, Senin (27/07/2026).
Sementara itu data kinerja intermediasi perbankan di wilayah Sekarkijang hingga posisi 31 Mei 2026 masih menunjukkan pertumbuhan yang positif meskipun cenderung melambat. Outstanding kredit Bank Umum tercatat sebesar Rp62,42 triliun atau tumbuh 0,78 persen (yoy). Sementara kredit BPR/S tercatat sebesar Rp2,58 triliun atau tumbuh 6,83 persen (yoy). Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Umum tumbuh 16,58 persen (yoy)menjadi Rp55,80 triliun, mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan dan likuiditas yang memadai untuk mendukung penyaluran kredit. Di sisi lain, DPK BPR mengalami kontraksi 0,61 persen (yoy)menjadi Rp2,18 triliun.
"Kami terus mendorong IJK (Industri Jasa Keuangan) untuk mendukung perekonomian di Sekarkijang dengan mendorong aspek intermediasi IJK dengan tetap memperhatikan kinerja perbankan. Agar mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit/pembiayaan dan terjaganya likuiditas. Selain itu, Kami juga terus memperkuat penerapan manajemen risiko kepada Industri Perbankan untuk meningkatkan kualitas penyaluran kredit, serta melakukan upaya restrukturisasi dan pendampingan kepada debitur agar fungsi intermediasi tetap berjalan secara sehat dan berkelanjutan," ulasnya.
Selain pertumbuhan perbankan, Kinerja pasar modal hingga Mei 2026 meningkat dengan jumlah investor pasar modal yang tercermin dari Single Investor Identification (SID) di Sekarkijang mencapai 431.375 atau meningkat 70,42 persen (yoy). Dari sisi pertumbuhan, Lumajang mencatat kenaikan tertinggi sebesar 90,92 persen, disusul Situbondo 89,57 persen, Banyuwangi 80,71 persen, Jember 64,00 persen dan Bondowoso 42,70 persen. Namun demikian, secara jumlah investor Jember masih menjadi kontributor paling tinggi dengan jumlah SID sebanyak 173.581 atau 40,24 persen dari total investor di Sekarkijang. (Ari)