JATIMPOS.CO/SUMENEP - Perjalanan usaha Hoirunnas Nuriyadi bermula dari sebuah meja kecil di ruang tamu rumahnya di Desa Paberasan, Sumenep. Dari tempat sederhana itulah pria yang akrab disapa Anas ini memulai langkah kecil membuka layanan transfer, sebelum berkembang menjadi jaringan delapan outlet BRILink yang kini melayani warga dari pusat kota hingga pelosok desa.

Didirikan pada 2017, usaha yang awalnya hanya melayani kebutuhan transaksi warga sekitar itu kini telah menjangkau sejumlah wilayah, mulai dari Gapura, Baban, Parsanga, Pamolokan, Marengan, Kalianget Barat, hingga Batuan. Ekspansi tersebut tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan yang mudah dijangkau.

“Waktu itu di Paberasan belum ada layanan transfer uang, padahal masyarakat butuh kemudahan tanpa harus ke kota. Dari situ saya terpikir membuka jasa transfer dengan menggandeng BRILink,” kata Anas, Senin,  (8/12/2025).

Melalui bisnisnya, Anas tak hanya menyediakan akses transaksi keuangan, tetapi juga membuka peluang kerja bagi warga di sekitar outlet. Setiap gerai kini mempekerjakan tenaga lokal untuk melayani transfer antarbank, pembayaran digital, hingga transaksi pembelian produk daring.

Anas menilai, perkembangan usahanya menunjukkan bahwa layanan keuangan mikro masih memiliki potensi besar, terutama di wilayah kepulauan seperti Sumenep. Ia menegaskan bahwa motivasinya tak semata-mata keuntungan, melainkan bagaimana usaha tersebut bisa menciptakan manfaat bagi warga.

“Walaupun gaji karyawan masih kami sesuaikan kemampuan usaha, niat saya tetap membuka peluang kerja dan memperbaiki sistem agar lebih baik,” ujarnya.

Setiap bulan, ia menerima laporan omzet dan jumlah transaksi dari delapan outletnya. Data itu menunjukkan meningkatnya aktivitas ekonomi warga, seiring makin terbiasanya masyarakat bertransaksi melalui layanan keuangan digital.

Namun perjalanan itu bukan tanpa tantangan. Anas mengakui risiko bisnis transfer cukup tinggi, mulai dari potensi penipuan, kesalahan nominal, hingga masalah kejujuran karyawan. “Tantangan terbesar adalah menjaga kepercayaan. Bisnis ini mudah ditiru, jadi integritas menjadi modal utama. Kami menerapkan pengawasan dan pelatihan untuk meminimalkan risiko,” jelasnya.

Kerja sama dengan BRILink disebutnya menjadi kunci kepercayaan pelanggan. Lewat jaringan tersebut, masyarakat dapat bertransaksi tanpa harus mengantre di ATM atau kantor bank. “BRILink memberi kemudahan nyata. Pelaku usaha kecil, pedagang pasar, dan warga desa bisa bertransaksi dengan cepat di agen terdekat,” katanya.

Selain memperluas akses layanan, keberadaan agen BRILink turut mendorong inklusi keuangan di pedesaan, terutama bagi masyarakat yang belum terbiasa memakai layanan digital atau merasa khawatir salah bertransaksi di mesin ATM.

Meski berkembang secara mandiri, Anas berharap dukungan lebih besar dari perbankan maupun pemerintah daerah, khususnya terkait regulasi ramah pelaku usaha kecil dan peningkatan fasilitas layanan perbankan. Ketersediaan mesin EDC yang andal menjadi hal yang ia tekankan.

“Mesin EDC tulang punggung transaksi kami. Kami juga berharap ada pelatihan rutin agar agen-agen kecil makin profesional,” tuturnya.

Ke depan, Anas berharap usahanya dapat menjadi bagian dari gerakan memperkuat kemandirian ekonomi desa. Menurutnya, ketika pelaku usaha kecil diberi ruang dan dukungan, dampaknya akan terasa langsung pada penyerapan tenaga kerja dan peningkatan perputaran ekonomi lokal.

“Semua ini untuk kebermanfaatan bersama. Kami ingin tumbuh, tapi masyarakat sekitar juga harus ikut tumbuh. Itu semangat kami di Anas Transfer,” pungkasnya. (Dam)