JATIMPOS.CO//SURABAYA – Komitmen Kota Surabaya dalam mengelola persoalan sampah kembali mendapat pengakuan nasional. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi ditunjuk sebagai lokasi peluncuran perdana program Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution, kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Norwegia untuk menekan pencemaran sampah plastik di sungai sebelum bermuara ke laut.
Penunjukan Surabaya bukan tanpa alasan. Di tengah tingginya timbulan sampah perkotaan yang mencapai sekitar 1.800 ton per hari, Kota Pahlawan dinilai mampu menunjukkan berbagai inovasi dan langkah konkret dalam pengurangan sampah, mulai dari pengelolaan berbasis masyarakat hingga pemanfaatan teknologi pengolahan sampah menjadi energi.
Program yang didukung Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Lingkungan Hidup, United Nations Development Programme (UNDP), dan Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) tersebut saat ini dijalankan di Kali Tebu dan Kali Merutu. Hasil awalnya cukup signifikan. Setiap hari rata-rata satu ton sampah plastik berhasil diangkat dari kedua aliran sungai tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, M. Fikser, mengungkapkan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya sampah yang berhasil diangkut, melainkan juga perubahan perilaku masyarakat yang mulai terlihat di kawasan sekitar sungai.
“Sungai yang sebelumnya dipenuhi sampah kini mulai terlihat lebih bersih. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai juga mulai tumbuh,” ujarnya Jumat, (5/6/2026).
Temuan menarik dari pelaksanaan program ini adalah munculnya dampak ekonomi bagi warga sekitar. Sampah yang berhasil dikumpulkan tidak langsung dibuang, melainkan dipilah, disortir, dan dikemas untuk dijual kembali. Aktivitas tersebut membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat sekaligus mendorong ekonomi sirkular berbasis lingkungan.
Meski demikian, tantangan masih cukup besar. Dari total 1.800 ton sampah harian, sekitar 600 ton masih berakhir di area landfill. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan melalui pembersihan sungai semata, melainkan harus dimulai dari sumbernya melalui pemilahan dan pengurangan sampah rumah tangga.
Ketua Kelompok Kerja Perubahan Perilaku Masyarakat Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular, Sri Morwani Nifadilastuti, menegaskan bahwa perubahan perilaku menjadi faktor paling menentukan dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Sementara itu, Koordinator Sekretariat TKN PSL, Ahmad Bahri Rambe, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program. Selain pembersihan sungai, edukasi masyarakat terus diperkuat agar perubahan perilaku dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Pada tahap awal, program ini diterapkan di lima wilayah, yakni Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, Solo, dan Bali. Namun Surabaya menjadi daerah pertama yang dipercaya sebagai lokasi peluncuran. Pemerintah berharap praktik-praktik baik yang lahir dari Kota Pahlawan dapat direplikasi di berbagai daerah lain sehingga upaya mengurangi pencemaran plastik sungai dan laut dapat berjalan lebih efektif secara nasional. (fred)