JATIMPOS.CO//SURABAYA — Di balik gang-gang sempit kawasan Dukuh Pakis, Surabaya, terdapat kisah warga yang menghadapi persoalan kesehatan sekaligus keterbatasan pendampingan. Irawan, warga setempat yang telah sekitar lima tahun hidup dengan stroke, lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah karena kondisi kesehatannya.
Keterbatasan fisik membuat aktivitas Irawan tidak lagi seperti sebelumnya. Untuk menjalani kehidupan sehari-hari, ia membutuhkan perawatan dan pendampingan dari ibunya. Persoalan menjadi lebih kompleks karena sang ibu juga pernah mengalami stroke.
Beruntung, kondisi ibu Irawan kini telah membaik setelah menjalani pemulihan. Ia bahkan kembali beraktivitas dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, kondisi tersebut sekaligus membuat persoalan pendampingan Irawan menjadi tidak sederhana.
Ketika membutuhkan pengobatan atau pemeriksaan kesehatan, tidak selalu ada anggota keluarga yang dapat mengantarkan Irawan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Sang ibu harus bekerja, sementara bantuan dari tetangga hanya dapat diberikan sebatas kemampuan masing-masing.
Kondisi itu menjadi perhatian Bang Jo yang datang langsung menemui Irawan dan keluarganya. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi warga sekaligus mendengar secara langsung persoalan yang selama ini dihadapi keluarga dalam merawat pasien stroke.
Dari penelusuran di lapangan, persoalan Irawan bukan semata-mata berkaitan dengan penyakit. Akses terhadap pendampingan untuk menjalani pengobatan secara rutin juga menjadi tantangan tersendiri.
Pihak puskesmas sebenarnya telah melakukan kunjungan ke rumah Irawan untuk memeriksa kondisi kesehatannya. Beberapa kali petugas juga mendatangi kediamannya untuk memastikan pengobatan tetap berjalan. Namun, kunjungan tersebut belum dapat dilakukan secara rutin.
Situasi inilah yang menurut Bang Jo perlu mendapat perhatian lebih serius. Warga dengan kondisi seperti Irawan dinilai membutuhkan pendampingan berkelanjutan, bukan sekadar kunjungan ketika persoalan kesehatan muncul.
“Jangan sampai warga yang sedang sakit harus berjuang sendiri. Pemerintah perlu hadir memastikan pengobatan, kebutuhan sehari-hari, dan bantuan yang memang dibutuhkan warga bisa terpenuhi,” ujar Bang Jo, Selasa (8/9/2026).
Ia berharap puskesmas bersama pihak kecamatan lebih proaktif memantau kondisi Irawan. Pengawasan tersebut penting untuk memastikan pengobatan berjalan serta mengetahui apabila terdapat kebutuhan lain yang harus segera ditangani.
“Semua harus saling menjaga. Pemerintah melalui kecamatan dan puskesmas, kemudian RT, RW, tetangga, dan KSH bisa bersama-sama mengawasi. Kalau sewaktu-waktu ada kondisi darurat, jangan sampai terlambat ditangani,” kata Bang Jo.
Ia menegaskan, kepedulian terhadap warga tidak cukup hanya dengan mengetahui keberadaannya. Pemerintah dan lingkungan harus memastikan pelayanan serta pendampingan benar-benar diterima secara berkelanjutan.
“Semoga Allah SWT memberikan kesembuhan, kekuatan, dan kesabaran bagi Mas Irawan dan keluarga yang sedang berjuang. Mudah-mudahan ada perhatian dan pendampingan yang terus diberikan,” harapnya.
Kisah Irawan menunjukkan bahwa persoalan kesehatan warga tidak selalu berhenti pada tersedianya fasilitas medis. Bagi warga yang tidak memiliki pendamping, akses menuju pengobatan dan pemantauan kesehatan justru dapat menjadi persoalan tersendiri.
Kunjungan Bang Jo sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik rumah-rumah sederhana di tengah permukiman padat, terdapat warga yang membutuhkan perhatian lebih. Tantangannya bukan hanya memastikan mereka terdata, tetapi memastikan tidak ada warga sakit yang akhirnya menjalani perjuangan kesehatan seorang diri. (fred)