JATIMPOS.CO/BANYUWANGI- Tradisi berupa doa bersama dan berbagai tampilan budaya masyarakat using Desa Aliyan Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi menjadi kekayaan budaya Jawa Timur. Kini dikemas dengan Festival Kumoro.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur melalui Bidang Kebudayaan, turut berupaya melestarikan dengan menfasilitasi menyelenggarakan festival Kumoro pada Jum’at dan Sabtu (31 Juli – 1 Agustus) 2026.
“Ini bentuk penguatan adat istiadat suku asli (festival kumoro) dilaksanakan di Desa Aliyan Kabupaten Banyuwangi, salahsatu desa yang dikenal kehidupan masyarakat dengan tradisi budaya yang masih terjaga kuat. Mengajak masyarakat turut menyaksikan sekaligus menjadi wahana edukasi generasi muda untuk menumbuhkan rasa bangga pada identitas budaya,” ujar Kepala Disbudpar Provinsi Jatim, Evy Afianasari, ST, M.MA.
Kabid Kebudayaan Disbudpar Prov Jatim Sadari, S.Sn selaku panitia penyelenggara menguraikan, rangkaian kegiatan ini diawali dengan pergelaran Janger (kesenian khas Banyuwangi) pada hari pertama, tanggal 31 Juli 2026 dan pada hari ke dua, tanggal 1 Agustus 2026 prosesi upacara adat selamatan di punden dengan melakukan doa bersama untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan desa.
Prosesi juga disertai jamuan tradisional sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur, kemudian arak-arakan Kumoro (upacara meminta hujan) menuju ke lapangan. Upacara adat ini memiliki nilai spiritual dan sosial tinggi sebagai focus pokok kegiatan.
Ritual upacara adat Kumoro ini melibatkan tokoh adat, sesepuh desa, tokoh agama, serta masyarakat setempat berjumlah 50 (lima puluh) orang, yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat dalam menjaga harmoni dengan leluhur, sesama manusia, dan alam.
Keseluruhan rangkaian kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari dan menjadi representasi penguatan adat istiadat yang menyeluruh, menghidupkan kembali ritual upacara adat sebagai bagian integral dari kehidupan sosial masyarakat yang dipusatkan di Desa Aliyan Kabupaten Banyuwangi.
“Kegiatan ini diharapkan semakin menguatkan posisi Banyuwangi sebagai daerah yang memiliki identitas budaya Using yang khas, sekaligus membuka peluang untuk menjadikannya destinasi wisata berbasis budaya yang lestari dan berdaya saing,” ujarnya.
Bentuk kegiatan penguatan adat istiadat suku asli ini dirancang untuk mengintegrasikan pertunjukan seni tradisi lokal Janger dan ritual upacara adat Kumoro sebagai sarana penguatan adat istiadat, upacara ritual yang diharapkan menjadi ruang penguatan nilai spiritual dan sosial masyarakat Using.
Seluruh kegiatan dikemas dalam pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat, pemuda, tokoh adat yang tidak hanya sekedar pelestarian budaya tetapi juga diharapkan mampu mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya di Banyuwangi. (rls)