JATIMPOS.CO/KOTA MADIUN – Pemerintah Kota Madiun resmi meluncurkan program wisata religi terintegrasi yang menghubungkan sejumlah destinasi sejarah dan keagamaan dalam satu rangkaian kunjungan. Peluncuran dilakukan langsung oleh Plt Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, sebagai bagian dari prioritas pembangunan sektor pariwisata tahun 2026.
Program ini dirancang untuk memperluas sebaran kunjungan wisata, tidak hanya terpusat di kawasan pusat kota, tetapi juga menjangkau kelurahan yang memiliki potensi religi, budaya, dan sejarah.
Rangkaian wisata dimulai dari kawasan Pahlawan Religi Center. Dari titik awal tersebut, wisatawan diajak menuju Masjid Kuno Kuncen menggunakan bus wisata. Perjalanan dilanjutkan ke Masjid Kuno Taman dengan moda transportasi becak, menghadirkan pengalaman wisata yang lebih dekat dengan nuansa lokal.
Bagus mengatakan, sebelum peluncuran dilakukan, pihaknya telah meninjau langsung jalur wisata, kesiapan armada, hingga kondisi objek wisata di lapangan.
“Jalur dan transportasinya sudah kita cek sampai ke dalam. Memang masih ada beberapa perbaikan, tetapi yang jelas pengembangan wisata budaya dan religi ini menjadi prioritas pembangunan 2026. Potensinya besar dan harus segera kita wujudkan,” ujar Bagus Panuntun, Jum'at (13/2/2026).
Selama ini, masyarakat lebih mengenal kawasan pusat kota sebagai tujuan utama kunjungan. Melalui konsep terintegrasi ini, Pemkot ingin memperkenalkan sisi lain Kota Madiun yang kaya nilai sejarah dan religi.
“Insya Allah pengembangan wisata religi, budaya, dan sejarah akan kita wujudkan secara bertahap,” tambahnya.
Untuk tahap awal, Masjid Kuno Kuncen dan Masjid Kuno Taman dijadikan proyek percontohan. Selain pembenahan infrastruktur, penguatan sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Pemkot memberikan pembinaan kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) agar mampu mengelola potensi wisata secara profesional dan berkelanjutan.
Menurut Bagus, peran Pokdarwis penting dalam memetakan potensi lokal serta memastikan dampak ekonomi dirasakan langsung oleh warga.
Dengan pola kunjungan yang saling terhubung, wisatawan tidak lagi hanya berhenti di satu titik. Pergerakan yang lebih merata diharapkan mampu menggerakkan sektor usaha kecil, kuliner, hingga jasa transportasi di tingkat kelurahan.
“Harapannya, pariwisata tumbuh merata dan pemberdayaan serta kesejahteraan masyarakat kelurahan ikut terangkat,” pungkasnya. (jum).
