JATIMPOS.CO/BONDOWOSO. Piala Soeratin kelompok usia 13 tahun (U-13) dan 15 tahun (U-15) yang digelar di lapangan sepak bola Stadion Bondowoso menjadi bagian dari upaya pembinaan sepak bola usia dini di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Ajang tersebut tidak hanya menjadi ruang kompetisi bagi para pemain muda, tetapi juga menjadi sarana untuk menemukan dan mengembangkan talenta sepak bola potensial yang nantinya dapat memperkuat Bondowoso di berbagai jenjang kompetisi.

Ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Bondowoso, Subangkit Adiputra, mengatakan pembinaan pemain muda harus dilakukan secara konsisten dan berjenjang. Menurut dia, pembinaan tidak cukup berhenti pada kelompok usia U-13 dan U-15.

"Harapan saya sebenarnya ini konsisten. Jadi tidak hanya di U-15, kemudian kita tidak konsisten. Karena apa yang diperoleh dari usia 13 sampai 15 tahun, seandainya tidak konsisten, artinya percuma," kata Subangkit. 

Ia menjelaskan, pembinaan pemain di Bondowoso diharapkan terus berlanjut hingga kelompok usia U-16 dan U-17. Setelah melewati usia tersebut, para pemain dipersiapkan untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk menghadapi kompetisi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) hingga Liga 4.

"Jadi U-13, U-15, U-17, di atas itu sudah ke Porprov, kemudian ke Liga 4. Kalau sepak bola ini tanpa konsistensi, tidak bisa," ujarnya.

Subangkit mengatakan, para pemain yang memiliki kemampuan dan potensi besar juga didorong untuk berani mengembangkan karier di luar Bondowoso. Sebab, menurut dia, pengalaman bertanding dengan pemain dari daerah lain akan membantu meningkatkan kemampuan dan mental bertanding.

Ia menyebut, para pemain muda yang mengikuti Piala Soeratin umumnya berasal dari sekolah sepak bola (SSB) dan klub masing-masing. Karena itu, pengembangan karier pemain juga menjadi tanggung jawab klub dan SSB yang menaunginya.

"Kalau hanya bermain di Bondowoso saja, saya jamin tidak akan bisa berkembang dengan baik. Mereka sudah punya channel masing-masing dan kita siap mendukung," kata Subangkit.

Dukungan tersebut, lanjut dia, dapat diberikan dalam berbagai bentuk. Bagi pemain yang berhasil menorehkan prestasi, pemerintah daerah berpeluang memberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas capaian mereka.

Selain itu, Askab PSSI bersama pemerintah daerah dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bondowoso juga berupaya membantu membuka akses bagi pemain potensial untuk melanjutkan karier sepak bola ke jenjang yang lebih tinggi.

"Kita akan permudah, bahkan berusaha membantu paling tidak bagaimana anak ini bisa sampai di tempat yang mereka tuju dengan baik dan dengan fasilitas yang mungkin mumpuni. Jalan yang kita bantu, proses selanjutnya terserah adik-adik kita," ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Gede Budiawan, mengatakan pemerintah daerah bersama KONI terus berdiskusi mengenai pola pembinaan generasi muda, termasuk dalam menggali potensi atlet di berbagai cabang olahraga.

Menurut dia, potensi atlet muda di Bondowoso cukup besar. Hal itu terlihat dari banyaknya anak usia sekolah yang memiliki kemampuan olahraga, termasuk dalam cabang sepak bola.

"Khususnya sepak bola, Askab PSSI secara rutin mengadakan Piala Soeratin untuk usia 13 dan 15 tahun. Kami tentu berharap event ini betul-betul dimanfaatkan untuk mencari bibit-bibit muda sepak bola yang ada di Kabupaten Bondowoso," kata Gede.

Ia menambahkan, pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan KONI dan Askab PSSI untuk menyiapkan dukungan bagi tim atau pemain yang nantinya mewakili Bondowoso di tingkat Provinsi Jawa Timur.

" Pemerintah berharap para pemain muda tersebut mampu bersaing dan menunjukkan potensi terbaiknya, " Harapnya. 

Di sisi lain, Gede mengatakan sarana dan prasarana olahraga, termasuk sepak bola, akan terus dioptimalkan sesuai dengan kemampuan pemerintah daerah.

Keterbatasan anggaran menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan prioritas, namun pemerintah tetap berupaya agar kegiatan pembinaan dan kompetisi olahraga dapat berjalan dengan baik.(Eko)