JATIMPOS.CO//BONDOWOSO. PT Bumi Suksesindo (PT BSI) turut berpartisipasi dalam Gebyar Ekonomi Santri (GES) Kabupaten Bondowoso yang digelar di Alun-alun Bondowoso. Perusahaan tambang emas yang beroperasi di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi ini memperkenalkan program Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS).
Melalui stan yang dihadirkan, PT BSI menampilkan hasil bumi masyarakat binaan, dokumentasi kegiatan penghijauan, serta rencana program rehabilitasi tahun 2027 mendatang.
Tim Rehabilitasi DAS PT Bumi Suksesindo, Nugroho Ari mengatakan, keikutsertaan dalam GES menjadi sarana untuk memperkenalkan program yang menghubungkan pemulihan lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin memperlihatkan bahwa rehabilitasi lahan tidak hanya soal penanaman pohon, tetapi bagaimana lahan tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, selaras dengan slogan kami, "Hijau Hutanku, Makmur Desaku," ujarnya, Jum'at (30/10/2026).
Salah satu yang ditampilkan adalah hasil bumi dari lahan kelola masyarakat binaan di Kabupaten Bondowoso dan Situbondo seluas 200 hektare dengan tahun tanam 2025. Hasil tersebut menjadi gambaran bahwa program penghijauan juga berpotensi mendukung ekonomi warga.
Selain hasil bumi, PT BSI juga menyajikan informasi dan dokumentasi pelaksanaan program pada Lahan Kompensasi (LAKOM) seluas 630 hektare di Kabupaten Bondowoso periode 2017-2023.
"Dokumentasi ini kami sampaikan agar masyarakat mengetahui bahwa program rehabilitasi telah dilaksanakan secara bertahap di berbagai desa," jelasnya.
Pada periode tersebut, kegiatan rehabilitasi menjangkau 20 desa yang tersebar di 8 kecamatan, yakni Kecamatan Taman Krocok, Klabang, Cermee, Botolinggo, Prajekan, Tegalampel, Pakem, dan Sumber Wringin.
Program Rehabilitasi DAS kembali dilanjutkan pada tahun 2025 di wilayah Bondowoso dan Situbondo. Di Bondowoso meliputi Kecamatan Grujugan dan Klabang, sementara di Situbondo dilaksanakan di Kecamatan Mlandingan.
Rehabilitasi dilakukan melalui penghijauan di lahan kritis untuk membentuk kawasan berhutan baru sekaligus memulihkan fungsi ekologis lahan.
"Tujuan utamanya adalah memulihkan lahan kritis agar kembali memiliki tutupan vegetasi dan menjalankan fungsi lingkungannya," tuturnya.
Jenis tanaman yang dikembangkan meliputi tanaman kehutanan seperti jati, sonokeling, sengon buto, pinus, randu, gmelina, mahoni, kesambi, trembesi, dan johar. Selain itu juga dikembangkan tanaman Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa mangga, alpukat, nangka, durian, jambu monyet, dan petai.
"Kami mengenalkan jenis tanaman yang dapat memberikan hasil bagi masyarakat, sehingga manfaat rehabilitasi tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan," imbuhnya.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberlanjutan program. Ketika masyarakat ikut merawat dan memanfaatkan lahan secara tepat, manfaatnya dapat berlangsung jangka panjang.
Tidak hanya kegiatan yang telah berjalan, PT BSI juga menampilkan rencana kegiatan Rehabilitasi DAS di dalam kawasan hutan kritis sesuai penunjukan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang akan dilaksanakan pada 2027 dengan luasan 1.000 hektare yang tersebar di 3 kabupaten, yakni Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi.(Eko)