JATIMPOS.CO/BONDOWOSO. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Usmani, Beddian, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, Ra Faqih Subhan resmi bergabung dalam kepengurusan DPC PKB Bondowoso. Keputusannya bergabung ke partai berlambang bumi dan bintang sembilan itu disebut sebagai upaya melanjutkan perjuangan almarhum ayahnya, KH Subhan, yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari PKB.

Ra Faqih mengatakan, pilihannya bergabung ke PKB bukan semata karena pertimbangan politik praktis. Menurutnya, ada ikatan sejarah yang kuat antara PKB dengan Pondok Pesantren Al-Usmani yang harus terus dijaga.

Ia mengingatkan, PKB Bondowoso pertama kali dideklarasikan di Pondok Pesantren Al-Usmani pada 1998. Sejak saat itu, almarhum KH Subhan turut mengawal perjalanan partai tersebut melalui berbagai posisi kepengurusan.

KH Subhan tercatat pernah menjadi pengurus Dewan Syuro hingga Tanfidz DPC PKB Bondowoso. Hingga 2023, ia masih aktif memberikan arahan dan bimbingan kepada para pengurus agar tetap berada di jalur perjuangan Nahdlatul Ulama (NU).

Bagi Ra Faqih, melanjutkan kiprah almarhum ayahnya merupakan bentuk tanggung jawab moral. Terlebih, PKB dipandang sebagai alat perjuangan politik warga Nahdliyin di parlemen.

Sementara menurut Ketua DPC PKB Bondowoso Ahmad Dhafir menyambut bergabungnya keluarga besar Pondok Pesantren Al-Usmani sebagai bagian dari penguatan perjuangan partai, bukan sekadar penambahan kader.

"Saya ini bukan pemilik partai. Saya hanya pengurus yang diberi amanat untuk mengurus partai yang dilahirkan oleh NU. Karena itu kami sowan kepada beliau, berdiskusi, dan Alhamdulillah keluarga beliau berkenan masuk dalam jajaran kepengurusan PKB untuk bersama-sama mengurus partai yang dilahirkan oleh NU," kata Dhafir, Kamis (9/7/2026). 

Menurut Dhafir, dipilihnya Graha NU sebagai lokasi kegiatan pelantikan pengurus juga menjadi simbol bahwa PKB tidak bisa dilepaskan dari sejarah kelahirannya bersama NU.

Ia menegaskan, langkah tersebut bukan untuk memperalat NU, melainkan mengingatkan seluruh pengurus bahwa mereka hanya diberi amanah mengelola partai yang lahir dari rahim organisasi keagamaan tersebut.

Dhafir juga menegaskan, secara historis Pondok Pesantren Al-Usmani memiliki posisi penting dalam perjalanan PKB di Bondowoso. Selain menjadi tempat deklarasi PKB pada 1998, almarhum KH Subhan juga menjadi salah satu tokoh yang konsisten membimbing dan mengawal arah perjuangan partai.

Menurutnya, semangat itulah yang kini diteruskan oleh Ra Faqih Subhan bersama keluarga besar pesantren. Karena itu, bergabungnya mereka dinilai sebagai kelanjutan dari perjuangan yang telah dirintis sejak awal berdirinya PKB.

Selain Ra Faqih, Dhafir menyebut sejumlah keluarga besar Al-Usmani juga ikut bergabung dalam kepengurusan PKB, di antaranya Ra Zainal yang sebelumnya aktif di Ansor dan Banser. Ke depan, keterlibatan keluarga pesantren disebut akan diperluas hingga tingkat PAC.

Dhafir optimistis bergabungnya keluarga besar Pondok Pesantren Al-Usmani akan memperkuat basis PKB di Bondowoso sekaligus meningkatkan perolehan kursi di DPRD pada pemilu mendatang. Ia juga membuka pintu bagi kalangan pesantren lainnya untuk bersama-sama mengurus PKB sebagai wadah perjuangan politik warga Nahdlatul Ulama.(Eko)