JATIMPOS.CO/BONDOWOSO. Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Bondowoso menggelar Kick Off Kepengurusan DPC PKB Bondowoso Periode 2026–2031 di Graha NU Bondowoso, Kamis (9/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi penanda dimulainya konsolidasi kepengurusan baru sekaligus penguatan arah perjuangan partai menuju Pemilu 2029.

Ketua DPC PKB Bondowoso, Ahmad Dhafir dalam sambutannya menegaskan bahwa seluruh pengurus yang baru dilantik harus memahami tugas utama mereka sebagai pengelola organisasi, bukan sekadar bagian dari kekuatan politik saat pemilu.

" Pengurus itu bukan pemilih. Pengurus itu yang diberi amanat untuk mengurus partai. Mengurus partai yang dilahirkan oleh NU," ujar Dhafir yang juga ketua DPRD Bondowoso. 

Ia menjelaskan, pemilihan Graha NU sebagai lokasi pelaksanaan kick off bukan dimaksudkan untuk membawa kepentingan politik ke tubuh Nahdlatul Ulama, melainkan sebagai pengingat sejarah lahirnya PKB yang tidak bisa dipisahkan dari NU.

Menurutnya, para pengurus harus memahami akar sejarah tersebut agar tetap menjaga nilai-nilai yang diwariskan para pendiri partai. Nilai itu tidak hanya berkaitan dengan keagamaan, tetapi juga semangat kebangsaan dan persatuan.

Ia menambahkan, PKB ingin terus menjaga warisan pemikiran Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, terutama dalam membangun kehidupan yang menghargai keberagaman.

" NU untuk semuanya. Gus Dur adalah pelopor pluralisme, kebersamaan untuk kebaikan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," katanya.

Selain melakukan konsolidasi internal, PKB Bondowoso juga mulai mempersiapkan langkah politik menghadapi Pemilu 2029. Menurutnya, sebuah partai harus memiliki target yang jelas sebagai arah kerja organisasi.

" Ya tentu, aneh kalau ketua partai tidak punya target. Kami punya target minimal 23 kursi," tegasnya.

Untuk mencapai target tersebut, kepengurusan baru disebut telah disusun dengan melibatkan berbagai unsur yang mewakili basis pesantren di Bondowoso. Langkah itu diyakini akan memperkuat konsolidasi hingga tingkat akar rumput.

Ia juga mengingatkan bahwa PKB Bondowoso memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan Pondok Pesantren Al Usmani, tempat deklarasi PKB di Kabupaten Bondowoso pada tahun 1998. Karena itu, keterlibatan keluarga besar pesantren tersebut dinilai menjadi energi baru bagi partai.

Dalam kepengurusan kali ini, sejumlah tokoh dan keluarga pesantren bergabung, di antaranya, Ra Faqih, Ra Zainal, Ra Holil Ali Wafa, Ra Holil, hingga KH Mahfud Rozi. Kehadiran mereka diharapkan mampu memperkuat basis dukungan PKB di Bondowoso.

Meski menargetkan kemenangan pada Pemilu 2029, Ketua DPC PKB Bondowoso menegaskan bahwa orientasi partainya tidak semata-mata mengejar perolehan kursi. 

" Seluruh pengurus harus kembali pada cita-cita, visi, dan misi awal berdirinya PKB sebagai partai yang lahir dari semangat kebangsaan, keislaman, dan kemaslahatan bersama, " Pungkasnya. (Eko)