JATIMPOS.CO/BONDOWOSO. Lambatnya proses pembangunan ulang Jembatan Sentong di Kabupaten Bondowoso dinilai telah menimbulkan efek berantai terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Selain mengganggu mobilitas warga, penutupan akses utama penghubung Bondowoso–Jember itu juga memukul pelaku usaha yang selama ini menggantungkan aktivitas perdagangan di sekitar kawasan jembatan.

Wakil Komite Tetap Fiskal Pembiayaan Perumahan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) RI, Ali Hasan Mun'im, mengatakan dampak ekonomi yang muncul saat ini tidak hanya dirasakan oleh pedagang kecil, tetapi juga pelaku usaha menengah hingga sektor jasa yang terdampak langsung akibat menurunnya arus kendaraan dan aktivitas masyarakat.

Menurut Ali, persoalan pertama yang paling terasa adalah meningkatnya ongkos ekonomi. Penutupan Jembatan Sentong memaksa masyarakat maupun pelaku usaha menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh sehingga biaya transportasi dan distribusi barang ikut meningkat.

" Ketika masyarakat harus memutar lebih jauh, maka biaya operasional otomatis naik. Ini menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha maupun konsumen. Ongkos ekonomi menjadi lebih mahal karena akses utama yang selama ini digunakan tidak bisa dilalui," ujar Ali yang juga owner SPPG Pancoran, Selasa (23/6/2026). 

Ia menjelaskan, dampak kedua adalah banyaknya usaha yang mengalami penurunan omzet secara drastis. Warung makan, toko kelontong, bengkel, hingga pelaku usaha jasa di sekitar kawasan jembatan kehilangan pelanggan karena lalu lintas kendaraan yang biasanya ramai kini beralih ke jalur lain.

" Kami menerima banyak laporan bahwa usaha di sekitar kawasan Jembatan Sentong mengalami penurunan pendapatan. Bahkan ada yang memilih menutup sementara usahanya karena pembeli hampir tidak ada," katanya.

Ali menambahkan, kondisi tersebut juga berdampak terhadap tenaga kerja. Sejumlah usaha yang mengalami penurunan pendapatan terpaksa mengurangi jam kerja hingga merumahkan karyawannya demi menekan biaya operasional.

Selain itu, ia menilai kerusakan infrastruktur akibat amblesnya Jembatan Sentong turut memperlihatkan belum optimalnya kesiapan jalur alternatif yang digunakan selama masa pembangunan. Banyak ruas jalan pengganti yang sebenarnya tidak dirancang untuk menampung kendaraan bertonase besar sehingga berpotensi mengalami kerusakan lebih cepat.

" Kita melihat jalan alternatif yang ada tidak semuanya siap untuk kendaraan besar. Akibatnya terjadi tekanan pada infrastruktur lain dan berpotensi menimbulkan kerusakan baru yang nantinya juga membutuhkan biaya perbaikan," ungkapnya.

Jembatan Sentong sendiri merupakan salah satu akses vital yang menghubungkan wilayah Bondowoso dengan Kabupaten Jember. Setelah mengalami ambles pada Februari lalu, pemerintah memutuskan membangun ulang jembatan tersebut dengan anggaran sekitar Rp17,5 miliar dan estimasi pengerjaan sekitar delapan bulan hingga satu tahun.

Melihat kondisi yang terjadi, Ali meminta pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik jembatan, tetapi juga menyiapkan langkah penyelamatan ekonomi bagi masyarakat terdampak. 

Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah memberikan stimulus kepada pelaku usaha yang mengalami kesulitan selama proyek berlangsung.

" Pemerintah harus hadir memberikan stimulus. Misalnya bagi pelaku usaha yang memiliki kredit perbankan, bisa dilakukan penangguhan atau relaksasi angsuran melalui kerja sama dengan bank. Ini penting agar usaha mereka tetap bertahan sampai pembangunan selesai," katanya.

Tidak hanya itu, Ali juga mendorong adanya program bantuan pemasaran, promosi usaha, hingga kemudahan akses permodalan bagi pelaku UMKM yang berada di sekitar kawasan terdampak. Menurutnya, langkah tersebut akan membantu menjaga perputaran ekonomi masyarakat selama akses utama belum kembali normal.

Terkait nasib para pekerja yang saat ini dirumahkan akibat usaha yang sepi atau bahkan tutup sementara, Ali menilai pemerintah perlu menyiapkan program pelatihan keterampilan dan kewirausahaan. Dengan demikian, masyarakat tetap memiliki peluang memperoleh penghasilan selama menunggu aktivitas ekonomi kembali pulih.

" Masyarakat yang terdampak jangan dibiarkan menunggu tanpa kepastian. Mereka perlu diberikan pelatihan keterampilan maupun kewirausahaan agar bisa membuka peluang usaha baru dan tetap produktif," ujarnya.

Ali berharap pembangunan Jembatan Sentong dapat diselesaikan sesuai target sehingga roda perekonomian masyarakat kembali bergerak normal. Ia menegaskan bahwa percepatan pembangunan infrastruktur harus dibarengi dengan perlindungan terhadap pelaku usaha dan pekerja agar dampak sosial ekonomi yang muncul tidak semakin meluas. 

"Jangan sampai masyarakat menanggung beban terlalu lama. Infrastruktur harus selesai tepat waktu, tetapi yang tidak kalah penting adalah memastikan ekonomi masyarakat tetap hidup selama proses pembangunan berlangsung," pungkasnya. (Eko)