JATIMPOS.CO/SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menyiapkan sejumlah mitigasi strategis untuk mengantisipasi tingginya mobilitas masyarakat pada masa Angkutan Lebaran 2026.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, secara khusus meminta tambahan armada kapal penyeberangan dan fasilitas SPBU portabel kepada pemerintah pusat dalam Rapat Koordinasi di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (20/2/2026).

Penambahan armada laut dinilai krusial untuk rute menuju kepulauan, guna mencegah penumpukan penumpang pada puncak arus mudik.

"Kami ini tiap tahun sesungguhnya mengalami kekurangan armada untuk penyeberangan Jangkar ke kepulauan di Sumenep. Kita membutuhkan paling tidak tambahan tiga armada, kira-kira begitu Pak Menteri," ujar Khofifah dalam sambutannya di hadapan Menteri Perhubungan.

Gubernur menegaskan bahwa keterlambatan jadwal penyeberangan kapal sangat berdampak fatal pada pemudik yang membawa barang dagangan, khususnya bahan pangan yang mudah rusak.

"Persoalannya banyak di antara mereka membawa angkutan dagangan, dan itu sayur dan buah. Kalau sayur dan buah mereka terlambat dua hari menyeberang, sudah pasti busuk," imbuhnya.

Di sektor angkutan darat, Khofifah menyoroti rencana fungsionalisasi Jalan Tol Kraksaan–Situbondo Barat yang membutuhkan dukungan logistik bahan bakar memadai di sepanjang jalurnya.

"Kalau ini akan dibuka kembali, kita butuh portable Pertamina yang memungkinkan bisa memberikan layanan semacam SPBU. Saya rasa dimungkinkan sekali oleh Pertamina untuk menyiapkan jika fungsionalisasi dari Jalan Tol Kraksaan–Situbondo Barat dilakukan," jelas Khofifah.

Selain kesiapan infrastruktur, kelancaran evakuasi dan mitigasi keselamatan pemudik di jalur darat juga menjadi prioritas. Khofifah meminta agar seluruh Posko Terpadu memiliki alur koordinasi yang efektif dengan fasilitas kesehatan terdekat.

"Kehadiran Puskesmas yang bisa memberikan layanan 24 jam terkoneksi dengan rumah sakit-rumah sakit terdekat itu menjadi sangat menentukan bagaimana keselamatan nyawa dari mereka yang menjadi bagian dari laka lantas," tegasnya.

Di sisi lain, beroperasinya Bandara Dhoho di Kediri turut diapresiasi karena terbukti mampu memecah beban volume kendaraan di jalur darat kawasan Mataraman.

"Bandara Dhoho dengan Super Air Jet tiga kali seminggu ini menjadi bagian solusi yang cukup efektif untuk daerah Mataraman. Apalagi Simpang Mengkreng misalnya, itu daerah yang memang sering kali menjadi pemberitaan macet transportasi di sana," katanya.

Sementara itu, Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi, yang memimpin rapat tersebut, memaparkan bahwa tingginya proyeksi pergerakan di wilayah Jatim menjadi alasan utama perlunya kesiapan komprehensif dari seluruh pemangku kepentingan.

"Jawa Timur merupakan salah satu simpul pergerakan utama nasional. Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi asal favorit ketiga nasional dengan jumlah pemudik kurang lebih 17,12 juta orang, dan tujuan favorit kedua nasional sebesar 27,29 juta orang," ungkap Dudy. (zen)