JATIMPOS.CO/PAMEKASAN - Setelah akhir Agustus mengalami harga di bawah biaya produksi dalam kisaran Rp 20 ribu sampai Rp 27 ribu perkilo, kini pekan kedua September harga tembakau di Pamekasan mulai sentuh biaya produksi Rp 35 ribu perkilo.


Realitas itu dibeberkan Khairul Anam, petani tembakau asal Pakong, Pamekasan utara. Menurut Anam, harga tembakau sangat ditentukan faktor kualitas. "Harga tembakau dalam sepekan ini sudah merangkak naik dan menyamai biaya produksi Rp 35 ribu. Malah, belakangan ini harga tembakau mulai sentuh Rp 40 ribu untuk kualitas baik," terang Anam, Minggu (13/9/2020).

Anam tak menampik jika faktor kualitas sangat berpengaruh pada penentuan harga. Untuk menjaga faktor kualitas tembakau Madura, Anam berharap adanya aksi nyata dari jajaran aparatt penegak perda terkait tembakau untuk menghalau tembakau luar Madura.

"Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, beberapa titik masuknya tembakau Jawa ke Pamekasan dijaga anggota Satpol PP bekerjasama dengan polisi dan tentara. Penghalauan tembakau Jawa sangat penting untuk menjaga kualitas tembakau Madura," seru Anam.

Jika kualitas terjaga, bukan tidak mungkin harga tembakau di Pamekasan bisa menembus angka Rp 60 ribu seperti yang pernah dialaminya pada musim 2018 lalu.

Terpisah, Kepala Disperindag Pamekasan, Achmad Sjaifudin, mengatakan, fluktuas harga tembakau sepekan ini pada kisaran Rp 35 ribu - Rp 45 ribu perkilo. Angka-angka itu ekivalen dengan biaya produksi yang dikeluarkan petani untuk menghasilkan satu kilo tembakau rajang kering.

"Biara harga tetap terjaga pada level biaya produksi, kami bersama lembaga terkait akan terus melakukan pemantauan di gudang-gudang pembelian tembakau," tegas Sjaifuddin.

Sementara Ketua APTI (Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) Pamekasan, Samukrah menyampaikan, dirinya menyambut baik kenaikan harga tembakau yang mulai berada di kisaran BEP. Dia meyakini, jika harga tetap stabil, petani tidak akan terlalu kecewa atas rendahnya harga tembakau di awal musim panen.

"Kami terus mengadvokasi sekaligus melakukan pengawasan atas tata niaga tembakau. Hasilnya, sejak awal September lalu, beberapa gudang mulai meningkatkan harga beli. Semisal, Gudang Garam membeli seharga Rp 40 ribu dan Djarum diatas Rp 42 ribu perkilonya," terang Samukrah. (did/ap)


TERPOPULER