JATIMPOS.CO/SURABAYA — Ancaman krisis energi global dan kebutuhan efisiensi anggaran direspons Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Timur dengan menerapkan sejumlah strategi penghematan energi dan biaya operasional mulai tahun ini.
Sekretaris DPRD (Setwan) Jatim Ali Kuncoro mengatakan pihaknya telah merumuskan langkah konkret, mulai dari penyesuaian sistem kerja aparatur hingga penerapan teknologi Smart Office. Kebijakan ini selaras dengan Surat Edaran (SE) Gubernur Jatim terkait efisiensi.
"Nawaitu (niat) kita melakukan ini agar efisiensi penggunaan bahan bakar bisa kita lakukan, penghematan penggunaan listrik gedung bisa kita jalankan, dan efisiensi anggaran bisa kita dapatkan," ungkap Ali Kuncoro saat ditemui usai Rapat Paripurna, Senin (30/3/2026).
Untuk mencapai target tersebut, ia membeberkan setidaknya ada tiga strategi utama yang saat ini diterapkan dan sedang dikembangkan oleh Sekretariat DPRD Jatim.
Pertama, sebanyak 195 Aparatur Sipil Negara (ASN) dan PPPK di bagian administratif diwajibkan bekerja dari rumah (work from home/WFH) setiap Rabu. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan konsumsi listrik dan penggunaan bahan bakar kendaraan.
Meski demikian, Ali memastikan fungsi kedewanan tidak terganggu. ASN yang memiliki tugas melekat dalam kegiatan legislasi, penganggaran, dan pengawasan tetap berdinas seperti biasa.
Kedua, Setwan Jatim mulai mengembangkan sistem Smart Office untuk mengontrol penggunaan listrik, seperti AC, televisi, dan perangkat audio, agar lebih efisien.
"Saat ini saya sedang mau mengembangkan Smart Office. Jadi seluruh panel-panel kelistrikan akan bisa terkontrol lewat satu genggaman. Dan insya Allah ini akan mulai kita jalankan di tahun ini," papar Ali Kuncoro.
“Tapi kalau pelaksanaan secara reguler konvensional—bahwa setiap selesai digunakan, dimatikan—itu sudah anjuran itu sudah kita lakukan. Cuma ke depan memang akan kita terapkan Smart Office," sambungnya.
Ketiga, untuk efisiensi di sektor transportasi, Setwan mengimbau ASN yang berdomisili di Surabaya menggunakan transportasi massal saat berangkat ke kantor.
Bagi pegawai yang berdomisili di luar kota, diberikan kelonggaran untuk menginap di area kantor menjelang hari WFH guna menekan biaya transportasi.
"Tentu dengan tempat ala kadarnya, tapi dari situ mereka bisa melakukan penghematan ongkos transportasi dan kebutuhan sehari-harinya," jelasnya.
Namun, Ali Kuncoro menegaskan bahwa seluruh strategi penghematan ini tidak boleh menurunkan produktivitas kinerja aparatur.
"Produktivitas harus tetap jalan dan jangan sampai ada kekurangan dalam melayani pimpinan dan anggota dewan," pungkasnya. (zen)