JATIMPOS.CO//SUMENEP - Limbah air dari kolam budidaya lele biasanya menjadi bagian yang harus dikelola agar tidak mencemari lingkungan. Namun, mahasiswa Universitas Annuqayah (UA) justru mengolahnya menjadi sumber nutrisi untuk tanaman selada. Senin (7/9/2026).

Pemanfaatan tersebut dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UA 2026 Posko 58 melalui program KKN Mandiri di lingkungan Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) Annuqayah, Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Mereka menerapkan sistem akuaponik yang menggabungkan budidaya ikan dengan tanaman dalam satu ekosistem.

Melalui metode tersebut, air yang berasal dari kolam lele dialirkan ke area tanaman untuk dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi. Sementara itu, tanaman turut membantu menjaga kualitas air sebelum kembali digunakan dalam sistem budidaya ikan.

Ketua Kelompok KKN UA Posko 58, Ubaidillah, mengatakan, penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat membuat kegiatan pertanian lebih efisien.

“Teknik ini akan mendukung efisiensi kinerja pertanian,” kata Ubaidillah.

Ia menjelaskan, air kolam ikan mengandung sisa pakan serta hasil metabolisme lele. Dalam sistem akuaponik, kandungan tersebut tidak langsung menjadi limbah yang dibuang.

Dengan bantuan mikroorganisme, bahan-bahan organik tersebut mengalami proses biologis sehingga unsur yang dibutuhkan tanaman dapat tersedia dan diserap sebagai nutrisi.

Selain menghasilkan tanaman, sistem tersebut juga menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi pembuangan limbah dari aktivitas budidaya ikan.

Penerapan akuaponik menjadi bagian dari upaya diversifikasi produksi di Unit Petani Assalam, yang merupakan salah satu unit usaha Koppontren Annuqayah.

Kepala Unit Petani Assalam, Abdul Gaffar, mengapresiasi inovasi yang dibawa mahasiswa KKN UA.

Menurut dia, metode tersebut tidak hanya berpotensi menambah hasil pertanian, tetapi juga dapat diperkenalkan kepada masyarakat agar bisa dikembangkan di lingkungan masing-masing.

“Program ini bisa menjadi pengembangan produksi pertanian sekaligus memberikan inspirasi bagi masyarakat sekitar untuk mencoba metode yang sama,” ujar Abdul Gaffar.

Karena itu, mahasiswa KKN UA juga merancang kegiatan yang melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) di sekitar lokasi.

Mereka akan memberikan pelatihan mengenai pembuatan instalasi akuaponik. Materi juga mencakup pengetahuan dasar pertanian, pemanfaatan pupuk, serta dampak penggunaannya terhadap tanah dan tanaman.

Unit Petani Assalam sendiri bergerak di bidang pertanian dan peternakan. Saat ini, terdapat sekitar 10 varietas tanaman hortikultura yang dikembangkan di unit tersebut.

Selain tanaman, Petani Assalam juga mengelola budidaya sekitar 20.000 ekor lele dan 1.000 ekor bebek.

Komoditas yang dihasilkan kemudian dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan sejumlah warung di sekitar Sumenep. Sebagian hasil produksi juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Annuqayah.

Pemilihan selada sebagai tanaman yang dikembangkan melalui akuaponik juga tidak lepas dari peluang pasarnya.

Kebutuhan selada di Sumenep dinilai terus terbuka, terutama dengan semakin banyaknya warung dan gerai UMKM yang menggunakan sayuran tersebut sebagai bagian dari menu makanan.

Permintaan juga datang dari SPPG yang membutuhkan pasokan bahan pangan untuk penyediaan makanan bagi peserta didik.

Mahasiswa KKN UA berharap penerapan akuaponik di Petani Assalam dapat berkembang menjadi model pertanian yang memanfaatkan sumber daya secara lebih efisien.

Selain mengurangi potensi limbah budidaya ikan, sistem tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tanaman dan memberikan tambahan nilai ekonomi bagi unit usaha serta masyarakat di sekitar pesantren. (Dam)