JATIMPOS.CO/TUBAN - PT Pertamina Patra Niaga Project Early Work (EW) GRR Tuban berkolaborasi dengan PRPP menginisiasi penyelenggaran kegiatan bertajuk Kelas Bareng Karang Taruna. Fokus kegiatan ini tentang edukasi pemanfaatan sosial media dan kensekuensi pengguna internet di kalangan generasi muda di desa sekitar area Proyek GRR, Kecamatan Jenu, Tuban.
Fatkhul Niam (32) pemuda Desa Beji menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Kelas Bareng Karang Taruna di desanya. Ia menilai
gelombang arus digitalisasi memicu perilaku manusia. Sebagian besar kelompok remaja di Karang Taruna rentan terpapar informasi yang belum terklarifikasi kebenarannya. Melalui forum ini ia berharap dapat diselenggarakan secara berkelanjutan untuk menggugah kesadaran dan mengasah kreatifitas.
"Semoga melalui kegiatan ini bisa berlanjut dengan praktik-praktik yang baik dalam wujud teman-teman karang taruna dapat mengabarkan sisi positif, kabar baik, dan informasi yang baik dari Desa Beji melalui konten yang kreatif,” tegas Niam panggilan akrabnya.
Sementara itu Pjs. Sr. Project Manager EW GRR Tuban, Febrian Dwi Prastyo pada kesempatan terpisah menyatakan pentingnya peran generasi muda lebih melek teknologi untuk menjadi garda depan dalam menangkal penyebaran informasi negatif di tengah-tengah masyarakat.
Menurutnya penyebaran informasi yang masif memerlukan kedewasaan menyikapinya. Karang Taruna sebagai ujung tombak generasi muda harus mengambil langkah proaktif untuk turut andil dalam mengurangi penyebaran informasi negatif.
Febrian berharap program ini dapat mendorong generasi muda di area sekitar Proyek GRR Tuban untuk dapat mempromosikan informasi yang bertanggung jawab.
Kelas Bareng Karang Taruna 2026 diikuti 160 orang pengurus dan anggota di desa sekitar area proyek GRR Tuban. Selain diselenggarakan di Desa Beji dan Mentoso, kegiatan ini juga diselenggarakan di Desa Wadung, Sumurgeneng, Rawasan, dan, Kaliuntu selama Juni hingga Juli 2026.
Selain edukasi mengenai etika dan bijak bermedia sosial, para peserta juga mendapatkan pelatihan terkait teknik membuat konten sosial media yang efektif serta pengenalan aspek pengelolaan dokumen dan arsip.
Kegiatan ini juga menjadi komitmen Proyek EW GRR Tuban dan PRPP pada implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Nomor 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.
Seperti diketahui Kementerian Komunikasi dan Digital pada 2018 merilis data bahwa 92.40% konten sosial media di Indonesia terindikasi sebagai konten negatif baik berupa hoaks, disinformasi, maupun ujaran kebencian.
Sementera itu Microsoft News Center baru-baru ini juga merilis peringkat Indeks Kesopanan Digital dimana Indonesia tercatat menempati peringkat 29 dari 32 negara yang dinilai. Hal ini menunjukkan bahwa isu mengenai penyebaran konten negatif perlu mendapat perhatian lebih dari pemangku kepentingan terkait. (ril)