JATIMPOS.CO//SURABAYA – Transformasi digital yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya perlahan tidak lagi sekadar menjadi proyek modernisasi teknologi, melainkan telah bergeser menjadi strategi besar dalam membentuk wajah baru kota metropolitan. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, konsep smart city kini diarahkan bukan hanya untuk membangun sistem berbasis digital, tetapi juga mengubah pola hidup masyarakat perkotaan.

Penguatan Surabaya Intelligent Transport System (SITS), integrasi transportasi publik, hingga digitalisasi pelayanan warga menunjukkan bahwa arah pembangunan Surabaya mulai bergerak menuju tata kelola kota yang mengandalkan kecepatan data dan efisiensi layanan. Pemkot Surabaya tampaknya menyadari bahwa tantangan kota besar hari ini tidak lagi hanya berkutat pada pembangunan fisik, melainkan kemampuan pemerintah menghadirkan pelayanan yang responsif di tengah mobilitas masyarakat yang semakin tinggi.

SITS menjadi simbol utama transformasi tersebut. Lebih dari 1.000 CCTV yang tersebar di berbagai ruas jalan bukan sekadar alat pemantau lalu lintas, tetapi cerminan bagaimana pemerintah mulai mengelola kota dengan pendekatan real time. Sistem ini memungkinkan pengambilan keputusan lebih cepat terhadap kemacetan maupun insiden jalan raya, sekaligus memperlihatkan perubahan pola birokrasi dari yang sebelumnya reaktif menjadi berbasis antisipasi.

Langkah itu diperkuat dengan pengembangan Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ) sebagai pusat konektivitas transportasi publik. Integrasi antara kendaraan pribadi, Suroboyo Bus, feeder Wira-Wiri, hingga akses bawah tanah menuju Kebun Binatang Surabaya menunjukkan bahwa Pemkot Surabaya tengah membangun ekosistem transportasi yang terhubung dalam satu sistem. Di titik inilah konsep smart city diterjemahkan secara konkret: teknologi dipakai untuk mengubah kebiasaan masyarakat dari penggunaan kendaraan pribadi menuju transportasi umum.

Data Dinas Perhubungan Surabaya memperlihatkan arah perubahan itu mulai terjadi. Jumlah pengguna transportasi umum yang melonjak dari 1,9 juta penumpang pada 2023 menjadi 7 juta penumpang pada 2025 menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan publik berbasis integrasi digital. Kenaikan tersebut tidak lahir secara instan, melainkan dari kombinasi kenyamanan layanan, kemudahan pembayaran non-tunai, hingga hadirnya aplikasi Gobis yang menyediakan informasi transportasi secara langsung.

“Kalau ingin masyarakat mau beralih ke transportasi umum, maka transportasi itu harus nyaman terlebih dahulu,” kata Eri, Kamis (7/5/2026)..

Namun transformasi digital Surabaya tidak berhenti pada sektor transportasi. Penataan kawasan Kota Lama dengan konsep heritage modern memperlihatkan upaya pemerintah menggabungkan teknologi dengan identitas sejarah kota. Pemindahan kabel utilitas ke bawah tanah, integrasi kawasan Pecinan dan Kampung Arab, hingga penataan ruang publik menunjukkan bahwa modernisasi Surabaya tidak diarahkan untuk menghilangkan karakter kota lama, melainkan memperkuatnya dalam wajah baru yang lebih tertata.

Digitalisasi pelayanan masyarakat melalui program satu ASN satu RW juga memperlihatkan perubahan pendekatan birokrasi. Jika sebelumnya pelayanan publik identik dengan prosedur panjang dan administratif berlapis, kini pemerintah mencoba mendekatkan layanan hingga level lingkungan terkecil melalui sistem digital terintegrasi. Aplikasi Sayang Warga menjadi instrumen baru dalam mempercepat koordinasi, verifikasi administrasi, hingga pelaporan warga secara transparan.

Di tengah perkembangan kota-kota besar di Indonesia, langkah Surabaya memperlihatkan bahwa konsep smart city mulai bergeser dari sekadar jargon teknologi menjadi instrumen pembangunan sosial perkotaan. Penghargaan National Governance Award 2026 yang diterima Surabaya dalam kategori pelayanan publik terintegrasi menjadi pengakuan bahwa transformasi digital tidak lagi hanya diukur dari kecanggihan sistem, tetapi dari sejauh mana teknologi mampu menghadirkan kenyamanan dan kualitas hidup bagi masyarakatnya. (fred)