JATIMPOS.CO/KABUPATEN MADIUN – Suasana riang terdengar sejak pagi di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Madiun, Selasa (18/11/2025). Deretan meja kecil, kertas gambar, dan set krayon warna-warni menjadi pusat perhatian puluhan anak taman kanak-kanak yang mengikuti Lomba Mewarnai. Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian Festival Literasi 2025 yang digelar selama tiga hari, 18–20 November 2025.
Dengan tema “Masyarakat Cerdas, Unggul, dan Mandiri untuk Kabupaten Madiun yang Bersahaja”, festival ini tidak hanya menghadirkan kegiatan seni, tetapi juga mengajak masyarakat menikmati literasi sebagai bagian dari keseharian.
Hiburan tradisional Dongkrek Satria Manggala memulai pagi dengan hentakan irama khas Mejayan. Anak-anak yang semula masih didampingi orang tua tampak semakin bersemangat, sebelum akhirnya duduk rapi mengikuti lomba mewarnai. Para guru dan orang tua sesekali memberi semangat dari kejauhan, sementara para panitia mendampingi dengan sabar.
Tidak hanya lomba, area festival juga dipadati stan bazar TPBIS (Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial) Perpustakaan Desa yang menampilkan produk UMKM, kerajinan, hingga stan bazar buku.
Festival dibuka dengan pemutaran video profil Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, menampilkan beragam program literasi dan layanan inklusif yang terus berkembang. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Madiun, Kus Hendrawan, menegaskan bahwa perpustakaan kini memikul peran yang jauh lebih besar.
“Jangan dilihat siapa pemenangnya. Adik-adik yang berani ikut lomba saja sudah menunjukkan mental yang kuat,” ujar Kus Hendrawan saat membuka acara, Selasa (18/11/2025).
Ia menyampaikan bahwa kegiatan Festival Literasi ini merupakan yang pertama kali digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Madiun. Karena itu, ia berterima kasih atas dukungan panitia, perpustakaan desa, lembaga pendidikan, hingga masyarakat yang terlibat.
Menurutnya, perpustakaan saat ini bukan lagi tempat meminjam buku semata—sebuah paradigma lama. “Paradigma baru harus kita tingkatkan, yaitu melibatkan masyarakat sepanjang hayat sebagai wahana pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan.”
Kus Hendrawan menambahkan, sekolah-sekolah yang hadir pada Lomba Mewarnai merupakan mitra yang telah rutin berkunjung ke perpustakaan. Banyak di antaranya sudah menikmati fasilitas seperti studio 3D, IT Club, dan berbagai layanan inklusif lainnya.
Kunjungan perpustakaan pun meningkat signifikan. “Target kunjungan kita tahun 2024 itu 19 ribu, tapi realisasi kita mencapai 32 ribu. Kunjungan sekarang bahkan harus antre,” ujarnya. Untuk menjaga kualitas layanan, khususnya fasilitas 3D, perpustakaan membatasi kunjungan maksimal dua kali per minggu.
Dalam acara pembukaan, panggung festival diwarnai penampilan pencak silat dan tari dari Sanggar Karya yang menarik perhatian pengunjung. Selain itu, anak-anak diajak berinteraksi dengan mendengarkan dongeng, sementara pengunjung dewasa menikmati alunan elektone dari musisi lokal.
Pengumuman dan penyerahan hadiah Lomba Mewarnai menjadi momen yang paling dinanti. Beberapa anak tampak tersipu ketika namanya dipanggil, sementara orang tua mereka mengabadikan momen bahagia tersebut. Piala dan tropy diberikan kepada Juara satu, dua dan tiga, serta harapan satu, dua dan tiga.
Festival Literasi 2025 menjadi gambaran bahwa literasi bisa hadir dalam beragam bentuk—warna, gerak, cerita, hingga suara. Bukan hanya tentang membaca, tetapi tentang keberanian anak-anak mencoba hal baru, tentang ruang bertemu antar warga, dan tentang perpustakaan yang membuka diri sebagai pusat pembelajaran inklusif.
Melalui kegiatan yang menyatukan seni, tradisi, dan edukasi, festival ini memberikan pesan sederhana namun kuat: literasi tumbuh subur ketika masyarakat diberi ruang untuk merayakannya bersama. (jum).