JATIMPOS.CO/KOTA PASURUAN — Kejuaraan Kota (Kejurkot) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Pasuruan resmi dibuka di GOR Untung Suropati, Sabtu (25/4/2026). Sebanyak 424 atlet dari 17 perguruan turun di ajang dua hari ini, yang sekaligus menjadi momen pembinaan dan seleksi pesilat muda berprestasi.
Suasana pembukaan berlangsung meriah. Para pelatih, official, dan pendukung dari masing-masing perguruan hadir memberikan dukungan. Kehadiran tokoh IPSI dan pemangku kepentingan daerah menambah semarak, sekaligus menegaskan komitmen Kota Pasuruan terhadap pembinaan silat.
Ketua IPSI Kota Pasuruan, Farid Misbah, mengatakan kejuaraan ini menjadi sarana menyiapkan atlet untuk level lebih tinggi.
“Kegiatan ini untuk menyiapkan atlet terbaik yang kelak akan mewakili Kota Pasuruan di tingkat provinsi dan nasional. Kompetisi seperti ini menilai kemampuan teknik, strategi, dan mental bertanding,” ujarnya.
Farid menyebut persaingan kali ini lebih sengit dibanding tahun sebelumnya karena beberapa perguruan menurunkan kontingen besar.
“Jumlah peserta meningkat signifikan, terutama dari Tapak Suci dan Kuntu Mancilan. Mereka diprediksi akan menjadi favorit juara di hampir semua kelas,” tambah Farid.
Ketua panitia, Baha’uddin, menyatakan kesiapan teknis telah dilakukan, termasuk penugasan juri dan wasit bersertifikat nasional.
“Kami menurunkan juri dan wasit bersertifikat nasional untuk memastikan penilaian fair play. Setiap kategori tanding dan seni diawasi agar kompetisi berjalan aman dan adil,” ujarnya.
Dominasi Kuntu Mancilan dengan 152 atlet, Tapak Suci 42 atlet, dan Ciung Elang 37 atlet menjadi sorotan. Baha’uddin menilai, jumlah kontingen berpengaruh pada dinamika pertandingan dan strategi tiap perguruan.
“Perguruan besar jelas memiliki peluang lebih banyak, tetapi pesilat individu dari kontingen kecil juga berpotensi mengejutkan,” ujarnya.
Salah satu peserta dari Tapak Suci, Muhammad Rizal, mengaku siap menghadapi persaingan.
“Kami datang untuk juara, tapi tetap menjunjung sportivitas. Lawan-lawan kami punya teknik berbeda dan menantang,” ujarnya.
Peserta lain dari Kuntu Mancilan, Laila Nur, menilai faktor mental menjadi kunci dalam pertandingan.
“Meski banyak peserta, fokus dan strategi latihan menjadi kunci. Kejurkot ini jadi tolok ukur kesiapan menghadapi kejuaraan provinsi,” katanya.
Selain kategori tanding, panitia juga menampilkan nomor seni dari berbagai perguruan. Farid Misbah menyebut seni pencak silat menjadi bagian dari pelestarian budaya.
“Seni silat menunjukkan keragaman dan kekayaan budaya. Peserta tidak hanya diuji fisik, tetapi juga estetika dan ekspresi gerak,” ujarnya. (shl)
