JATIMPOS.CO//KOTA PASURUAN — Sekitar 2.000 warga mengikuti Jalan Sehat Sarungan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kota Pasuruan, Minggu (1/11/2026). Mengenakan sarung, peserta menyusuri sejumlah ruas jalan dari kawasan Mall Pelayanan Publik hingga Payung Madinah.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Mall Pelayanan Publik, Jalan KH. Wachid Hasyim, itu melibatkan unsur Pemerintah Kota Pasuruan, PCNU, MWCNU, ranting NU, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat umum.
Wali Kota Pasuruan Dr. H. Adi Wibowo bersama Wakil Wali Kota H.M. Nawawi dan jajaran Forkopimda hadir sekaligus melepas peserta. Jalan sehat tersebut mengambil rute Jalan Hayam Wuruk, Jalan Slagah, Jalan Pahlawan, Jalan WR. Supratman, Jalan RA. Kartini, kembali ke Jalan KH. Wachid Hasyim, kemudian berakhir di kawasan Payung Madinah.
Adi mengatakan Hari Santri tidak hanya menjadi momentum bagi kalangan pesantren, tetapi juga seluruh masyarakat Kota Pasuruan. Menurutnya, identitas sebagai Kota Santri harus tercermin melalui kehidupan sosial dan pembangunan daerah.
“Semangat Hari Santri bukan hanya milik pesantren, melainkan milik seluruh masyarakat Kota Pasuruan. Marwah santri harus mampu menguatkan kehidupan sosial, kerukunan, dan pembangunan daerah,” kata Adi.
Ia menilai kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempererat ukhuwah dan menjaga karakter keislaman Kota Pasuruan. Adi juga mengapresiasi PCNU, pesantren, santri, pelaku UMKM, serta seluruh elemen masyarakat yang terlibat.
“Kota Pasuruan memiliki sejarah panjang sebagai Kota Santri. Karena itu, nilai-nilai kesantrian harus terus kita rawat dan diterjemahkan dalam kehidupan sosial serta pembangunan kota,” ujarnya.
Selain jalan sehat, rangkaian kegiatan diisi penampilan Hubbul Wathan serta Ishari Milenial tingkat SMP dan SMA se-Kota Pasuruan. Panitia juga menyediakan berbagai hadiah, antara lain dua sepeda listrik, dua sepeda gunung, kulkas satu pintu, lemari furnitur, sofa ngaji, kompor beras, dan minyak.
Ketua PCNU Kota Pasuruan Gus Amak mengatakan keberadaan generasi muda menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan tradisi santri, termasuk Hadrah Ishari yang memiliki akar sejarah kuat di Kota Pasuruan.
“Kami para senior memiliki kewajiban untuk terus mengader dan membimbing para junior agar semangat santri tetap terjaga,” kata Gus Amak.
Menurutnya, kaderisasi harus dilakukan secara berkelanjutan dengan memberi ruang kepada generasi muda untuk mengenal sekaligus terlibat dalam tradisi yang berkembang di lingkungan masyarakat.
“Generasi muda jangan hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi bagian dari keberlanjutan tradisi dan perjuangan para santri,” tegasnya.
Jalan Sehat Sarungan kemudian ditutup dengan pembagian doorprize. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan aman, sekaligus menjadi momentum mempererat kebersamaan masyarakat serta meneguhkan identitas Kota Pasuruan sebagai Kota Santri. (shl)