JATIMPOS.CO//BANYUWANGI - Menyusutnya debit air sungai ditengah musim kemarau membuat pengelolaan air irigasi di wilayah kerja Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Singojuruh harus dilakukan secara cermat dan terukur. Kondisi ketersediaan air yang mulai tidak seimbang dengan kebutuhan tanaman menjadi tantangan untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mencegah ancaman gagal panen.

Wilayah layanan baku sawah di bawah pengelolaan Korsda Singojuruh mencapai sekitar 6.135 hektare. Namun, kondisi riil di lapangan menunjukkan sekitar 2.800 hektare masih ditanami padi dan 1.200 hektare ditanami palawija yang masih membutuhkan pasokan air. Sementara sebagian lahan lainnya telah selesai dipanen.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Pengairan Kabupaten Banyuwangi melalui Korsda Singojuruh. Terlebih, selain debit sungai yang terus menurun, masih ditemukan pelaksanaan tata tanam yang tidak sepenuhnya sesuai dengan perencanaan yang telah disepakati.

Pelanggaran pola tanam tersebut berdampak langsung terhadap kebutuhan air. Ketika luas dan waktu tanam tidak sesuai rencana, kebutuhan pasokan air meningkat, sementara ketersediaan air di sumber justru semakin terbatas.

Korsda Singojuruh, Jasmani, mengatakan pihaknya terus memaksimalkan pengelolaan air irigasi sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.

"Untuk mengantisipasi kekeringan dan gagal panen, kami maksimalkan pengelolaan air irigasi dengan metode gilir dan dropping air dari hulu ke hilir," ujar Jasmani, Jumat (2/10/2026).

Menurutnya, pola distribusi tersebut dinilai cukup efektif dan efisien dalam mengatur keterbatasan debit air agar tetap dapat menjangkau lahan pertanian yang masih membutuhkan pasokan.

Upaya tersebut juga diperkuat melalui komunikasi dan koordinasi intensif dengan para pengurus Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) di wilayah kerja Korsda Singojuruh. Koordinasi menjadi kunci agar pembagian air dapat berjalan tertib dan kebutuhan tanaman tetap terlayani secara proporsional.

"Kami optimistis bisa melalui musim kemarau tahun ini tanpa ada gagal panen akibat lahan tidak terjangkau air," tegasnya.

Jasmani juga mengimbau seluruh pengurus HIPPA di wilayah kerja Korsda Singojuruh untuk bersama-sama mematuhi rencana tata tanam dan pola tanam yang telah disepakati.

"Kami berharap semua pengurus HIPPA bisa memahami dan mematuhi rencana tata tanam serta pola tanam yang sudah disepakati bersama. Dengan begitu, problem kekurangan air irigasi pada tahun depan bisa diminimalkan," pungkasnya.

Pengelolaan air secara bergilir, dropping dari hulu ke hilir, serta kepatuhan terhadap tata tanam menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan air dan kebutuhan pertanian.

Ditengah debit sungai yang terus menurun, kedisiplinan dalam pola tanam menjadi bagian penting dari upaya bersama menjaga keberlanjutan produksi pangan di Banyuwangi.(ren)