JATIMPOS.CO//BONDOWOSO. Bagi sebagian peternak, menjual pedet atau anak sapi setelah lahir menjadi cara paling cepat mendapatkan uang. Namun, pola itu membuat jumlah ternak yang dimiliki tidak banyak berubah.
Di Desa Sumbergading, Kecamatan Sumberwringin, Bondowoso, pola tersebut coba diubah. Pedet tidak seluruhnya dipandang sebagai sumber pendapatan jangka pendek, tetapi sebagai modal untuk menambah indukan baru.
Gagasan itu dikenal dengan nama Manajemen Ternak Pedet Dijual Jadi Induk atau MAT PECI. Konsep tersebut dikembangkan oleh Indra Wijaya, seorang inseminator asal Bondowoso yang kini membawa inovasi itu dalam lomba inseminator tingkat II Jawa Timur.
Indra menjadi satu dari 15 peserta yang lolos ke tingkat provinsi. Ia mewakili Bondowoso setelah memperoleh nilai tertinggi dalam pemeringkatan inseminator di daerahnya.
Saat menjalani penilaian di Desa Sumberwringin, Jumat (28/8/2026), Indra tidak hanya diuji dalam keterampilan inseminasi buatan. Di hadapan tim juri Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, ia juga mempresentasikan MAT PECI sebagai inovasi yang dikembangkan dari persoalan peternak di lapangan.
Menurut Indra, inti MAT PECI adalah memutar hasil kelahiran ternak menjadi indukan baru. Pedet yang lahir dijual, kemudian hasil penjualannya digunakan untuk membeli sapi betina yang telah siap kawin.
Dengan cara itu, sapi tidak berhenti sebagai komoditas yang dijual ketika peternak membutuhkan uang. Ternak diposisikan sebagai aset produktif yang terus dikembangkan.
Dalam perhitungan Indra, pola tersebut berpotensi mempercepat pertumbuhan populasi ternak. Dalam enam tahun, MAT PECI diperkirakan mampu meningkatkan populasi hingga 350 persen. Dari sisi nilai aset, peningkatannya diperkirakan sekitar 330 persen dibandingkan pola konvensional.
Gambaran tersebut terlihat dari pengalaman Feri Afandi, warga Desa Sumbergading. Pria yang akrab disapa Pak Ayu itu sebelumnya merupakan buruh tani sekaligus penggaduh sapi.
Sekitar 2010, Feri hanya memelihara satu ekor sapi milik orang lain. Ketika pedet hasil pemeliharaan tersebut dijual dan menghasilkan sekitar Rp15 juta, uang itu digunakan untuk kebutuhan keluarga dan akhirnya habis.
" Saya waktu itu kaget langsung dapat uang Rp15 juta. Uangnya saya belanjakan untuk kebutuhan keluarga, ngajak jalan anak-anak dan akhirnya habis," kata Feri.
Pertemuannya dengan Indra pada 2016 membuat Feri mengubah cara pandang. Hasil ternak tidak lagi seluruhnya dijual untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi diputar kembali menjadi indukan.
" Saya tekuni itu. Tidak saya jual full, tapi diganti sama indukan. Terus begitu," ujarnya.
Perubahan tersebut membuat posisi Feri perlahan berubah. Jika sebelumnya ia menjadi penggaduh, kini ia justru memiliki 16 ekor sapi dan menggaduhkan 14 ekor di antaranya kepada tujuh orang. Ternaknya bahkan telah tersebar hingga Kecamatan Sempol, Bondowoso, dan Kayumas, Situbondo.
Feri juga memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar tempat tinggalnya untuk menekan biaya pemeliharaan. Limbah pucuk dan daun jagung digunakan sebagai pakan, sementara rumput gajah ditanam di lahan kecil milik mertuanya. Pengalaman itu membuat sapi tidak sekadar menjadi sumber pemasukan, tetapi juga cadangan aset keluarga.
Sementara Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Bondowoso Hendri Widotono mengatakan MAT PECI merupakan salah satu inovasi yang potensial untuk dikembangkan lebih luas. Pemerintah berencana memperluas penerapannya melalui sekolah lapang dan pembinaan di wilayah kerja lima Puskeswan yang ada di Bondowoso.
" Pengembangan pola tersebut menjadi semakin penting setelah populasi sapi Bondowoso mengalami penurunan akibat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), " Ungkapnya.
Ia menambahkan, Populasi yang sebelumnya berada di kisaran 240.000 ekor kini disebut tinggal sekitar 141.000 ekor berdasarkan data BPS yang disampaikan Hendri.
" Ini potensi yang terpendam di Bondowoso. Dengan satu replika keberhasilan MAT PECI ini, kita berusaha membangkitkan ekonomi masyarakat, terutama pembudidaya sapi," katanya.
Bagi pemerintah daerah, keberhasilan Feri menunjukkan bahwa pemulihan peternakan tidak hanya bergantung pada penambahan jumlah ternak. Yang tidak kalah penting adalah mengubah cara peternak memperlakukan ternak sebagai aset yang dapat berkembang.
" Dari penggaduh menjadi pemberi gaduhan, dari pekerja menjadi pemilik aset, perubahan itulah yang ingin diperbanyak di Bondowoso, " Pungkasnya. (Eko)