JATIMPOS.CO/BONDOWOSO. Pemerintah Kabupaten Bondowoso mulai menyiapkan langkah baru untuk memperkuat sektor perkopian dengan menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan kopi yang terintegrasi. Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan kembali identitas Bondowoso sebagai Republik Kopi Reborn sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Komitmen tersebut disampaikan Bupati Bondowoso, KH Abdul Hamid Wahid, usai kegiatan petik kopi di Desa Sumberejo, Kecamatan Sumberwringin, Rabu (8/7/2026). Menurutnya, kegiatan petik kopi bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi penanda dimulainya penyusunan strategi besar pengembangan sektor perkopian daerah.

"Petik kopi ini sebetulnya penegasan Bondowoso sebagai Republik Kopi Reborn. Setelah ini kami akan fokus menata konsep strategis bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui dunia perkopian," kata Hamid.

Ia menjelaskan, pemerintah daerah akan memanfaatkan tawaran fasilitasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menggelar high level meeting yang membahas pengembangan sektor kopi. Forum tersebut diharapkan menjadi titik awal penyusunan kebijakan yang lebih terarah dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Selama ini, berbagai program perkopian di Bondowoso telah berjalan. Namun, menurut Hamid, pelaksanaannya masih terpisah-pisah sehingga belum menghasilkan dampak yang optimal bagi petani maupun pelaku usaha.

Karena itu, Pemkab Bondowoso akan menyatukan seluruh potensi yang ada dalam satu konsep pengembangan. Mulai dari produksi, pembiayaan, peningkatan kualitas, pemasaran, hingga mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli akan disusun dalam satu sistem yang saling terhubung.

"Peta pengembangan itu harus menyatukan seluruh rantai nilai kopi, sehingga setiap program saling mendukung dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," ujarnya.

Pemerintah juga menargetkan penguatan sektor hulu hingga hilir. Langkah tersebut meliputi perluasan akses pembiayaan bagi petani, pendampingan budidaya, penyusunan standar mutu, pengembangan jaringan pemasaran, serta pembukaan akses pasar yang lebih luas bagi kopi Bondowoso.

Hamid meyakini, kolaborasi seluruh pihak akan menjadi kunci untuk mengembalikan kejayaan kopi Bondowoso yang selama ini dikenal luas melalui identitas Republik Kopi.

"Dengan bersinergi, manfaatnya bisa dirasakan bersama. Bondowoso yang dulu pernah berkibar dengan bendera Republik Kopi diharapkan dapat bangkit kembali, sehingga masyarakat ikut menikmati hasil dari kebersamaan itu," katanya.

Selain sektor kopi, pemerintah daerah juga mulai mengembangkan konsep agroforestri sebagai strategi pemanfaatan kawasan hutan yang lebih produktif. Mengingat sekitar 60 persen wilayah Bondowoso merupakan kawasan hutan, potensi tersebut dinilai dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Menurut Hamid, agroforestri tidak hanya berorientasi pada kopi, tetapi juga membuka peluang pengembangan komoditas lain yang sesuai dengan karakteristik kawasan hutan sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan.

"Yang terpenting adalah bagaimana kawasan hutan di Bondowoso dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah," pungkasnya.(Eko)