JATIMPOS.CO/KOTA PASURUAN — Ketua TP PKK Kota Pasuruan, Suryani Firdaus Adi Wibowo, menekankan pentingnya membangun budaya hidup bersih dan sehat secara berkelanjutan serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.
Hal itu disampaikan dalam kegiatan Evaluasi Gerakan Keluarga Sehat Tangguh Tanggap Bencana (GKSTTB) di Gedung Gradhika, Senin (25/5/2026).
Kegiatan tersebut diikuti jajaran TP PKK Kota Pasuruan, Ketua TP PKK kecamatan dan kelurahan, Pokja IV, serta perwakilan BPBD dan kader kesehatan. Agenda evaluasi itu menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga melalui edukasi kesehatan dan mitigasi kebencanaan.
Suryani mengatakan, program GKSTTB dirancang untuk membentuk keluarga yang mandiri, sehat, serta memiliki kemampuan menghadapi situasi darurat. Menurut dia, ketahanan keluarga harus dibangun dari kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar persiapan ketika menghadapi penilaian lomba.
“Jangan hanya semangat ketika ada lomba saja. Pola hidup bersih dan sehat harus benar-benar menjadi kebiasaan dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program tersebut memiliki tiga fokus utama, yakni kesehatan keluarga, pelestarian lingkungan, dan perencanaan hidup sehat. Pada sektor kesehatan, perhatian diarahkan pada peningkatan gizi keluarga untuk mencegah stunting, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta penurunan angka kematian ibu dan balita.
Di bidang lingkungan hidup, masyarakat didorong membangun kawasan yang tangguh dan siap menghadapi potensi bencana. Sementara pada aspek perencanaan sehat, program menitikberatkan pada keluarga berencana, pengelolaan keuangan rumah tangga, dan peningkatan kesehatan pasangan usia subur.
Menurut Suryani, edukasi kebencanaan menjadi bagian penting dalam program GKSTTB karena dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terkait mitigasi, penanganan darurat, hingga langkah penyelamatan diri saat terjadi bencana alam maupun nonalam.
Ia berharap kader PKK mampu menjadi motor penggerak edukasi di lingkungan masing-masing. Dengan demikian, budaya siaga bencana dapat tumbuh mulai dari tingkat keluarga hingga masyarakat luas.
“Keluarga adalah lini pertama dalam menghadapi situasi darurat. Karena itu, pemahaman tentang kesiapsiagaan bencana harus dimulai dari rumah tangga agar masyarakat lebih siap, sigap, dan tidak panik ketika menghadapi bencana,” katanya.
Selain membahas persoalan kesehatan dan mitigasi bencana, Suryani juga menyoroti persoalan sosial yang berkembang di masyarakat, seperti pola hidup konsumtif dan maraknya pinjaman online. Ia meminta warga lebih bijak mengatur keuangan agar tidak menimbulkan persoalan ekonomi dalam rumah tangga.
“Kita harus bisa mengelola kebutuhan keluarga dengan baik dan tidak mudah terpengaruh hal-hal yang justru memberatkan ekonomi keluarga,” ucapnya.
Di akhir kegiatan, TP PKK Kota Pasuruan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat program kesehatan dan ketahanan keluarga melalui kolaborasi dengan pemerintah, kader kesehatan, serta masyarakat. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup warga sekaligus membangun lingkungan yang lebih sehat dan tangguh menghadapi berbagai risiko bencana.
“TP PKK Kota, kecamatan, dan kelurahan siap untuk melaksanakan Program Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana,” tutur Suryani. (shl)