JATIMPOS.CO/SURABAYA — Penampilan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama istrinya, Arumi Bachsin, mencuri perhatian saat menghadiri upacara pengibaran bendera Merah Putih dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (17/8/2026).
Pasangan tersebut tampil serasi mengenakan busana bernuansa Dayak Kenyah dari Kalimantan Timur. Pilihan busana itu menjadi cara keduanya mengeksplorasi kekayaan budaya Nusantara dalam momentum peringatan kemerdekaan.
Arumi mengatakan dirinya sengaja memilih busana Dayak karena ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda. Selama ini, ia mengaku lebih sering mengenakan kebaya, khususnya kebaya Jawa Timur, dalam berbagai kegiatan.
“Sebenarnya mau yang berbeda aja, gitu. Di setiap kegiatan aku banyak pakai kebaya, terutama kebaya Jatim,” kata Arumi.
Ia menyebut upacara 17 Agustus menjadi salah satu kesempatan untuk mengenakan busana dari daerah lain. Tahun sebelumnya, Arumi memilih busana dari kampung asalnya, Palembang, sebelum kembali mengenakan busana Jawa Timur pada sore harinya.
“Tahun ini coba Dayak. Sebenarnya simpel sih, saya pengen yang ada bulunya,” ujarnya.
Menurut Arumi, busana Dayak memiliki karakter berbeda dibandingkan busana Jawa, termasuk dari detail payetnya. Ia juga mengaku sudah cukup lama memiliki keinginan mengenakan busana Dayak, meski persiapannya baru dilakukan menjelang pelaksanaan upacara.
“Ide pengen pakai Dayak tuh sudah lama. Tapi masih jadi atau nggak, jadi atau nggak. Kemudian kita persiapkan nggak terlalu lama karena ini sebenarnya udah jadi,” jelasnya.
Sementara itu, Emil mengatakan pemilihan busana Dayak menjadi bagian dari upaya mengeksplorasi sekaligus mengapresiasi keberagaman budaya Indonesia. Menurutnya, momentum kemerdekaan menjadi kesempatan untuk menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah.
“Indahnya NKRI adalah bagaimana pada hari kemerdekaan kami yang di Jawa Timur bisa mengenakan keindahan budaya dari berbagai penjuru Indonesia,” kata Emil.
Ia menjelaskan, busana tersebut diperoleh melalui relasi mereka di Kalimantan Timur. Emil dan Arumi sebelumnya bertemu dengan Wakil Gubernur Kalimantan Timur dalam sebuah acara keluarga, kemudian berkomunikasi dengan pihak terkait untuk menentukan busana yang sesuai.
“Dan kita ingin ini menjadi kesempatan untuk mengeksplor dan mensyukuri khazanah budaya yang ada di Nusantara kita ini,” ujarnya.
Arumi mengatakan busana yang dikenakan mereka didatangkan langsung dari Kalimantan Timur. Hal itu dilakukan untuk memastikan busana yang dipakai tetap menghormati ketentuan dan pakem budaya setempat.
“Kita juga nggak mau sampai kita pakai ternyata pakemnya salah atau apa, dari yang tadinya mau menghargai malah jadi tersinggung. Jadi untuk amannya memang kita langsung dari Kaltim semua,” ungkap Arumi.
Emil menambahkan, terdapat beberapa penyesuaian pada busana yang dikenakannya setelah mendapat izin dari pihak yang memahami pakem busana tersebut. Salah satunya adalah perubahan bagian celana yang semula berkonsep pendek menjadi panjang.
“Memang ada beberapa modifikasi yang seijin,” kata Emil.
Di balik penampilannya yang serasi, Emil mengaku ada sedikit tantangan saat mengenakan busana tersebut, terutama ketika terkena hembusan angin. Ia mengatakan bagian penutup kepala yang dikenakannya sempat bergerak karena belum sempat diikat menggunakan tali.
“Kalau pas kena angin tadi agak tuing gitu. Jadi kita kepalanya agak kita giniin kalau angin ke sana,” ujar Emil sambil menjelaskan pengalamannya.
Arumi kemudian bergurau bahwa momen 17 Agustus menjadi kesempatan langka untuk melihat sang suami tampil dengan busana tersebut.
“Kalau nggak pas 17-an, nggak mungkin lihat Bapak didandanin gini,” kata Arumi sambil tertawa.
Selain memperkenalkan budaya Kalimantan Timur melalui busana, Arumi berharap momentum kemerdekaan juga dapat memperkuat semangat persatuan masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital.
“Jaga persatuan. Karena kita kan udah terbuka banget ya terutama di era digital,” ujarnya.
Ia berharap semangat persatuan tetap terjaga, terutama di kalangan generasi muda, di tengah mudahnya penyebaran isu yang dapat memicu perpecahan. “Mudah-mudahan semangat persatuan ini tetap ada,” pungkas Arumi. (zen)