JATIMPOS.CO/KOTA PASURUAN – Kota Pasuruan baru memiliki wali kota (burgemeester) pertama pada 1928 atau sepuluh tahun setelah pembentukan Dewan Kota (Gemeenteraad) tahun 1918. Penetapan itu tertuang dalam Staatsblad Nomor 411 Tahun 1928 yang juga berlaku bagi sembilan kota lain di Hindia Belanda.

Selama periode 1918–1928, pemerintahan kota dipimpin Asisten Residen Pasuruan yang merangkap mengawasi wilayah kota dan kabupaten. Struktur tersebut berubah setelah pemerintah kolonial mengangkat pejabat wali kota definitive.

Tokoh pertama yang menjabat adalah Mr. Henri Edmund Boissevain. Ia ditetapkan pada 30 Oktober 1928, disumpah Gubernur Jawa Timur pada 7 November, lalu dilantik Residen Pasuruan C.H.H. Snell pada 13 November 1928.

Sejarawan lokal, Much Fatkhul Arifin, menyebut pengangkatan itu menjadi tonggak penting administrasi modern Pasuruan. “Sejak saat itu, tata kelola kota berdiri lebih mandiri dan tidak lagi sepenuhnya di bawah asisten residen,” ujarnya di Pasuruan, Kamis 5 Maret 2026.

Boissevain lahir di Blora, 2 April 1892. Lulusan hukum Universitas Utrecht itu sebelumnya bertugas di lingkungan peradilan Semarang dan Bangil sebelum dipercaya memimpin Pasuruan.

Arifin menjelaskan, pada 1929 Boissevain menandatangani kontrak perencanaan kota dengan arsitek ternama Ir. Thomas Karsten selama dua tahun. Kerja sama tersebut mencakup revisi peraturan bangunan, pengembangan kawasan industri, hingga pembenahan drainase Kebonsari.

“Kontrak itu menunjukkan keseriusan pemerintah kota membangun tata ruang yang terencana,” katanya. Karsten diwajibkan berada di Pasuruan sedikitnya tiga hari tiap kuartal untuk memberi konsultasi teknis.

Dalam masa jabatan 1928–1934, sejumlah proyek direalisasikan, antara lain pembelian Marine Hotel yang difungsikan sebagai balai kota, perbaikan pasar besar dan alun-alun stasiun, pembangunan taman kota, stadion, sekolah kejuruan, serta peningkatan layanan rumah sakit.

Peneliti arsip kolonial, Budi Santoso, menilai kebijakan sanitasi dan kesehatan menjadi ciri kepemimpinannya. “Ia menata sistem penyembelihan daging dan memperbaiki drainase untuk menekan malaria, meski sempat mendapat penolakan pedagang,” ujarnya.

Atas kontribusinya, taman kota Pasuruan pada 1934 dinamai Burgemeester Boissevain Park. Tahun yang sama ia dipindah menjadi wali kota Cirebon, lalu pada 1 Mei 1935 menjabat posisi serupa di Semarang. (shl)