JATIMPOS.CO//SURABAYA - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini didapuk menjadi perwakilan yang pertama dari Indonesia sebagai salah satu pembicara dalam St. Petersburg International Educational Forum ke-10 di Rusia. Forum skala internasional yang berlangsung selama lima hari 25 – 29 Maret 2019 itu, bertujuan untuk membahas berbagi isu-isu pendidikan dari berbagai penjuru dunia. Forum ini merupakan yang terbesar dalam sejarah, lebih dari 20 ribu orang dari Rusia dan puluhan negara di dunia ambil bagian di dalamnya.

Di awal paparannya, Wali Kota Risma menjelaskan, pada tahun pertama ia menjabat sebagai wali kota, Surabaya memiliki berbagai tantangan terkait dengan kemiskinan, di Surabaya saat itu ada enam distrik lampu merah atau area prostitusi yang beroperasi. Situasi ini membuat meningkatnya jumlah siswa putus sekolah, serta tingkat kenakalan remaja.

“Karena itu, kota ini telah membentuk banyak inisiatif untuk mengatasi kebutuhan belajar kelompok-kelompok yang kurang beruntung ini,” kata Wali Kota Risma saat mengawali paparannya, Jum’at, (29/03/19), waktu setempat.

Selain itu, lanjut Wali Kota Risma, bagi siswa yang tidak melanjutkan pendidikan ke universitas dan ingin mulai bekerja, Pemkot Surabaya memiliki pelatihan gratis dan dukungan untuk pemasaran produk melalui program Pejuang Muda. “Sementara bagi mereka yang tidak bisa melanjutkan pendidikan tinggi karena kondisi ekonomi, kami mendukung mereka dengan sejumlah beasiswa untuk sekolah hotel, sekolah desain mode, atau sekolah penerbangan,” jelasnya.

Ia juga menilai bahwa pendidikan yang baik harus didukung dengan kondisi kesehatan yang baik. Oleh karena itu, pihaknya mendirikan pos kesehatan di tingkat lingkungan untuk balita dan remaja untuk memantau pertumbuhan mereka secara teratur. Bahkan, Pemkot Surabaya meluncurkan program Pendidikan Kampung atau lingkungan. Dalam program ini, semua lingkungan di kota harus menunjukkan dukungan kepada anak-anak usia sekolah untuk belajar dan membantu mengurangi potensi kenakalan remaja serta mempromosikan melek huruf.

Wali Kota perempuan pertama di Surabaya ini yakin bahwa pendidikan tidak hanya akan fokus pada area sekolah, tetapi yang paling penting bagaimana menyediakan lingkungan yang sehat dan memungkinkan bagi siswa. Agar mereka bisa terus belajar di luar sekolah dan menjadikan mereka pembelajar seumur hidup.

“Sebagai hasil dari semua inisiatif ini, kami dapat menikmati Indeks Pembangunan Manusia tertinggi di Indonesia, meningkatnya jumlah prestasi siswa di tingkat nasional dan internasional, dan Surabaya dianugerahi UNESCO Learning City Awards pada tahun 2017,” pungkasnya. (fred)