JATIMPOS.CO/TRENGGALEK - Plt Bupati Trenggalek, Jawa Timur, H Moch Nur Arifin resmi melepas 270 Taruna AD, AU, AL , Kepolisian dan IPDN yang mengikuti Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) XXXIX di Trenggalek dengan sandi Saka Elang.



Pelepasan itu dikemas dengan kegiatan santai menyaksikan kesenian khas Trenggalek, jaranan Turonggo Yakso bertempat di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Jumat, (12/4).

H Moch Nur Arifin mengatakan, perjalananan kegiatan bagi taruna yang akan segera menyeleseikan pendidikannya di akademinya masing-masing, berjalan dengan baik. “Sejak 1 April lalu mereka di sini sudah sesuai roundown yang telah ditetapkan,” ucapnya.

Dijelaskannya, mereka disebar di tiga titik kecamatan, seperti Kampak, Gandusari dan Bendungan. Dimana berbagai kegiatan sosial seperti merabat jalan, bedah rumah sampai mengecat sekolah telah diseleseikan dengan baik. “Semua dikerjakan dengan baik sesuai tugasnya yang diperintahkan kepada mereka,” jelasnya.

Bahkan kegiatan terkahir dengan menuaikan prasasti pada monumen Saka Elang di perempatan pasar Pon di Jalan Panglima Sudirman jantung kota yang ditandatangani Gubernur AAL beberapa waktu yang lalu bukti keseriusan kesiapan Trenggalek dalam menyukseskan Latsitadarnus. “Kita memang persiapkan kegiatan ini jauh hari agar sukses,” tegasnya.

Sementara, tentang tampilan kesenian khas jaranan Turonggo Yakso sengaja dihadirkan agar para Taruna yang dilatarbelakangi asal daerah berbeda itu mampu memahami keanekaragaman budaya di Indonesia.

“Mereka akan bertugas di berbagai daerah, siapa tahu mereka juga akan bisa menjadi bagian yang akan bisa membatu promosi kepariwisataan kita,” ungkapnya.

Kesenian Turonggo Yakso yang dilahirkan dari tradisi pesta panen padi di daerah Kecamatan Dongko, berjarak 25 kilometer dari kota memang punya perbedaan dengan kesenian jaranan yang lain.

“Dulu jaranan ini dinamakan kesenian Baritan yang digelar pasac panen padi sebagai wujud rasa syukur petani usai panen,” terangnya.

Kini kesenian Turonggo Yakso telah mendunia, bahkan sampai sering diundang di negara lain seperti Asia, Timur Tengah maupun Eropa sekalipun tetap dimotori pekerja luar negeri asal Trenggalek sendiri. “Belum lama kita main di Jepang dan Korea,” imbuhnya.

Kepada para Taruna, Arifin berharap agar semua ilmu lapangan yang didapat di Trenggalek bisa segera diaplikasikan di daerah di mana mereka bertugas agar terungkap potensi mereka demi kemanfaatan dari kegiatan itu.

“Mereka saya doakan menjadi panglima jenderal semua dan dari Trenggalek mendapatkan ilmu yang bisa di aplikasikan di daerah lain,”pungkasnya. (ham)